Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2015

Menjadi Orang ketiga, Haruskah Bangga?

Entahlah, beberapa malam terakhir ada 2 kata yang begitu mengganggu hati dan pikiran. Ya, Orang ketiga. Orang ketiga yang dimaksud bukanlah urutan satu, dua, tiga dan seterusnya. Namun orang baru yang tiba-tiba hadir dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan teman, percintaan atau dalam dunia pekerjaan. Dan catatan kecil ini tertuju pada hubungan pribadi.
Dalam kamus percintaan, Insan yang datangnya tidak diundang ini akan mendatangkan pertengkaran, kecurangan dan kemunafikan. Hal klise yang kadang hadir adalah adanya orang lain dalam hubungan pribadi yang sangat personal. Kejadian yang paling sering ada di film, sinetron, drama dan kehidupan sehari-hari. Ini bukan hanya adegan film, adanya orang lain dalam suatu hubungan untuk orang yang sabar akan menganggapnya sebagai bentuk cobaan.
Tulisan ini mungkin akan sedikit memojokan orang ketiga. Tentu saja. Setiap orang tidak pernah menginginkan adanya orang lain dalam kehidupan pribadinya. Tidak ada satupun yang menginginkan hubungannya berujung kemunafikan.
Menjadi korban orang ketiga atau menjadi pelaku orang ketiga mungkin pernah di alami dua-duanya. Karna bukan tanpa sebab, segala sesuatu tentu ada sisi positif dan negatifnya.
Sebagai korban, tentu saja ini akan menjadi momok yang sangat menyakitkan. Bagaimana tidak, keharmonisan suatu hubungan dan kebahagian akan lenyap seketika. Hubungan akan rusak. Dan mungkin untuk memperbaiki kembali tentu akan sangat sulit.
Ketika masing-masing pihak kekeuh dengan alasan dan pembenarannya, ini akan menjadi klimaks. Yang satu membenarkan diri dengan rasa nyaman, yang satu membenarkan diri dengan disakiti, yang satunya lagi malah tak tahu diri dengan hadirnya yang merusak. Masing-masing punya alasan, masing-masing punya pembenaran. Lalu keuntungan apa yang didapatkan?
Ketika tujuan hidup hanyalah sebuah kata Nyaman, mungkin akan banyak pembenaran sikap untuk mendapatkan kata nyaman. Akan banyak pengorbanan dan yang dikorbankan untuk sebuah kenyamanan. Ibarat kata kerennya “ akan menghalalkan segala cara” yaah, kira-kira begitu.
Menjadi korban dalam posisi ini memang sangat menyakitkan. Tidak ada kata-kata bijak untuk posisi ini. Dalam segala situasi, akan terus terjerembab jauh. Karena dalam keadaan ini tidak ada persidangan dosa. Hitung-hitungan kesalahan bukan senjata ampuh untuk mendapatkan ketenangan hati. Kembali pada tujuan yang sebenarnya, mempertahankan atau pergi.
Jika kita harus intropeksi diri, masuknya orang lain dalam suatu hubungan tentu ada sebab akibatnya. Mungkin saja ada ketidakcocokan, atau ada perasaan kurang nyaman, atau karena dipaksa.
Kita mulai dari ketidakcocokan. Sifat manusia berbeda-beda. Tidak akan ada titik temu jika kita harus menemukan kata sama dalam sifat milyaran hati dan otak di dunia ini. Saling memahami dan berbesar hati adalah salah satu solusi untuk menemukan kata nyaman. Ketika salah satu tidak mau salah, mungkin kita harus mengiyakan. Akan ada masanya dia akan menyadari bahwa apa yang dilakukan itu salah.
Kemudian perasaan kurang nyaman. Sama seperti tidak cocok. Kata nyaman tidak akan pernah ada jika masing-masing membenarkan sikapnya. Sayalah yang benar, sayalah yang seharusnya dimengerti. Coba dipikir apakah dalam suatu hubungan hanya sepihak yang memiliki hati, dan pihak lain memiliki hanya memiliki otak?
Lalu dipaksa. Yang ini ironis. Ketika hanya salah satu pihak yang menginginkan dan pihak lain tidak bisa berbuat apa-apa karena salah satu hal. Yang ini namanya BODOH. Yap, Bodoh. Bagaimana bisa kehidupan kita dikendalikan oleh orang lain? Bagaimana bisa kita tidak bisa menciptakan banyak pilihan untuk kebahagiaan pribadi? Bagaimana bisa hidup ini harus di lewati dengan hal-hal bodoh?
Jika ini persoalan nyaman dan bahagia, tidak seharusnya mengorbankan orang lain, tidak seharusnya menyudutkan orang lain untuk kebahagiaan pribadi.
**no coment.
Lalu sebagai pelaku? Apakah ada pembenaran. Ya. Hukum alam tetap berlaku. Tetap ada sisi positif dan negatifnya. Kembali lagi rasa nyaman itu datang bukan tanpa sebab. Ibarat ikan, takan muncul jika tak di pancing. Siapa yang paling kuat, rasa nyamankah atau rasa bersalah? Ibarat sedang berjalan, liat papan nama bertuliskan nama lokasi tapi masih bertanya. Itu kan mubazir.
Ironisnya, ada pelaku membenarkan diri, ngotot, membabi buta dan menyalahkan orang lain. Yang kayak begini benar-benar tidak tahu diri. Logikanya, siapa atau apa yang sebenarnya ingin dimenangkan? Jika hanya persoalan rasa cinta, uang dan kedudukan apakah yakin kalau itu bisa membawa kebaikan.
Bahagiakah menjadi orang ketiga? Yap. Kehidupan terus berjalan.  Persoalan bahagia berasal dari apa yang kita rasa. Abaikan kata-kata miring tentang orang ketiga. Nikmati apa yang sudah didapat. Kalau kata anak-anak suek “ masa bodoh, yang penting saya bahagia”.  Hati-hati, ada yang namanya kebahagiaan sesaat. Ada hukum alam, ada hukum karma. Roda terus berputar. Apa yang anda tanam maka itu pula yang akan anda tuai. (*yg ini mah ngetiknya dari hati).
Karena solusi tidak semudah meminta maaf dan memaafkan.
So, coba tempatkan dirimu sebagai korban. What do yo do if it happens to you? What do you do if you see someone like that?

Kamis, 27 November 2014

Catatan Aneh

Ternyata 3 tahun lalu saya pernah tulis ini. Saya masih ingat kronologinya, waktu itu sy benar-benar jatuh cinta sama cowok. Iyaa, saat itu sy jatuh hati sama pribadinya yg tidak hanya menganggap saya pacar, tapi juga teman berbagi. Katanya "jika cinta hanya menjadi pelampiasan nafsu syahwat, lalu apa bedanya dengan seorang p**..."
catatan ini, saya temukan di laman fesbuk ku,, hihihi,,



Kata Mereka (Catatan Aneh)
Catatan kecil

Aku masih ingin bercerita tentang malam. Entah mengapa? Mungkin aku benar2 telah jatuh cinta pada gelap. Yaah, seperti mereka. Bagaimana mereka memaknai malam. Mungkin akupun merasakan hal yang sama. Aku tak mendefinisikan malam dengan panjang, karena itu sulit bagiku. Mungkin aku belum mampu dan sangat tidak sanggup memaknai arti gelap itu. Aku hanya merasakan dingin yang indah saat malam. Simple, namun aku suka.
Dan tentang apa kata mereka. Aku gag pernah tahu dan tidak mau tahu kata mereka tentangku. Ataupun hanya ingin sekedar memahami tentang kecintaan mereka. Tentang mereka yang benar2 tulus menyayangi, mereka yang sangat membenci, atau yang pada awalnya cinta dan tiba2 berubah menjadi benci yang mendalam, bahkan tentang mereka yang PURA2 menyayangi padahal sebenarnya hanya ingin menguji. Memahami tentang ini, tentu tidak aka nada habisnya, membahas tentang rasa dan ketulusan. Akupun tidak pernah mempermasalahkan itu. apakah mereka sayang, benci atau pura2. Bukan masalah yang sangat bagiku. Mungkin karena pemahamanku yang agak aneh. Bagiku, itu telah menjadi hak mereka, bagaimana menempatkan rasanya terhadapku. Aku hanya merasakan indah saat menikmati semua. Meski itu sakit.
Terkadang aku harus sedikit berkorban, mungkin harus menyakiti diriku sendiri untuk bisa menikmati semua. Tak mengapa. Aku yang mengalami dan merasakan jadi akulah yang paling tahu bagaimana cara mengatasi dan memperlakukan itu. Memang egois, tapi pikirku yang selalu mengusik semua logika itu, apakah mereka peduli dengan semua sakitku?
 Akal sehatku terkadang berhenti sesaat. Melumpuhkan semua yang menjadi logika. Berjalan layaknya orang yangs sedang kesasar, tak tahu arah. Mungkin itulah titik jenuh ku.
Ada banyak ketakutan2ku yang membuatku mengalami PHOBIA kronis. Saat banyak cinta yang datang padaku. Saat mereka sangat peduli dan ingin terjamah dengan semua takdirku. Aku suka saat2 itu. meski pemaknaan hadirnya padaku atau hadirku padanya itu berbeda. Merasa membutuhkan tempat berbagi dalam beberapa masa. Peduli, ternyata sesaat.
Aku paham, seperti apa peduli mereka terhadapku. Dan aku percaya dengan apa yang aku tahu. Namun aku lupa satu hal. Ada saat nya seseorang merasa JENUH sehingga BERUBAH. Mungkin memang peduli itu ada, tapi siapa yang tahu, besok peduli itu lenyap di culik oleh egois di alam lain. Hingga semua pergi, menghilang dan lenyap.
Phobia ini yang menjadikanku mati dan beku. Hadirnya seperti hantu di siang malam. Semua seperti mimpi. Dengan sangat cepat perubahan itu ada dan terjadi.
Saat inilah aku harus berperang dan bertarung setangguh mungkin. Menggunakan semua senjata yang aku miliki. Namun ambisiku bukanlah untuk melawan, tetapi bagaimana bisa  melepas dan meninggalkan. Aku harus bertarung dengan ego ku sendiri.
Saat aku benar2 merasa sendiri, aku tetap berusaha untuk terus bahagia dan ceria. Dan menutup rapat2 jendela kesedihanku. Meski sesekali aku diam2 mengintip masa itu. sekedar untuk menjadikan referensi di masa depan.
BENCILAH aku jika itu mesti. dan CINTAI aku jika itu memang INGINMU.

_   Thutti Talangko Ayyizawwa   _

Minggu, 23 November 2014

Tentang Progresif. Fan belt atau Bampel?



Ini hari kedua Dian ikut progresif. Progresif adalah kegiatan yang di adakan Fakultas MIPA Unhas dalam rangka menyambut mahasiswa baru. Yah, mirip-mirip OSPEK sih. Entah bagaimana aturan mainnya,  kegiatan ini di adakan di penghujung semester I.
Sedikit tentang hari pertama, saya pulang kantor pukul 17.00. Tiba di rumah pukul 17.23, Dian belum pulang.  Sebenarnya kampusnya di liburkan hingga 3 hari karena demo mahasiswa yang berujung anarkis dg aparat. Tapi kata dian :
“ saya harus kekampus hari ini karena ada pra progresif”  (Saya baru ingat, seminggu sebelumnya,  saya menanda tangani  surat izin pelaksanaan Progresif sebagai Wali mahasiswa).
Seperti biasa,  tiap sore saya wajib tau keberadaan Dian di kampus.  (Sudah selesai kuliah atau belum, sudah naik angkot atau belum, sudah sampai di jalan mana sekarang). Sore itu sy telpon Dian, Telpon ku tidak di angkat (kegiatannya belum selesai mungkin, pikirku). Saya menunggu, jam dinding di rumah sudah menunjukan 18.49 Dian belum ada kabar. Saya telpon lagi, masih belum di angkat juga.  
Pukul 19.16, pesan singkat dari Dian mendarat dengan manis di ponselku,
“Kak, masih di kantor?  kemudian sy telpon balik. Dian menjawab dengan nada buru-buru. Katanya banyak sekali perlengkapan yang harus di bawa.
Setibanya di rumah, saya bergegas kilat mencari semua perlengkapan kegiatan progresif. Pukul 01.46 kelengkapan rampung. Saya dan Dian harus tidur, karena 2 jam berikutnya sy harus kembali bangun untuk nganter Dian ke kampus.
Di hari kedua, seperti biasa pukul 04.06 sy sdh siap anterin Dian ke kampus. Ada kejadian mengejutkan di perjalanan. Pas saya dan Dian melintas di Panaikang, depan Jl. Haji Kalla ada 4 orang anak muda yang tiba-tiba turun dari motor dan berlari ke arah satu pemuda, lalu mengeroyok pemuda itu.
“astaghfirullah”  spontan sy teriak, sayang sekali jalanan masih sangat sepi. Si korban yang masih di gebukin, pasrah. Tidak ada yang membantu. Saya sempat menoleh beberapa detik, masih sempat liat salah satu dari pelaku memukulkan helm ke badan korban. Kenakalan anak muda.
Setibanya di kampus, Dian buru-buru turun dari motor. Saya pamit pulang. Sumpah, masih ngantuk banget. Saya bergegas memacu motor  dengan kecepatan maksimal semampu saya mengendalikan motor.
Udara masih sangat dingin, jalan masih sepi, hanya terlihat beberapa muslim yang keluar dari mesjid. Hembusan angin yang terdengar kali ini agak aneh,  semacam kasar. Apa asalnya dari motor matic ku? Ah, mungkin karena himpitan jilbab dan helm. Tapi makin lama makin kasar, makin keras dan duaaarrr!! Mesin motorku mati seketika.
Saya menepi, memeriksa kondisi ban, mungkin saja bocor, ternyata ban nya baik-baik saja.  Motor saya started kembali, masih bunyi, pas tarik gas malah gag mau jalan.  Tali gasnya yang putus yaa? (saya putar otak) klo tali gas nya yang putus, tidak bisa di gas dong, ini bisa di gas, hanya saja tidak mau jalan.  Nasib jadi anak gadis yang buta dunia mesin dan otomotif. Otak ku bekerja cepat, ada apa ini?
Saya melihat sekeliling, jarak dari tempat itu kerumah sudah dekat. Haruskah motor saya dorong kerumah? Tapi kalau sy dorong kerumah, siapa yang bisa benerin. Saya menelaah lokasi naas tempat sy berdiri. Ternyata di depan ada 4 bengkel berjejer, tapi jam segini kan belum buka.
Saya menghampiri bapak-bapak yang masih lengkap dengan sarung dan kopiahnya, sepertinya dia baru keluar dari masjid (menurutku “ah, bapak-bapak ini pasti orang baik, secara dia baru keluar dari mesjid, bisa di percaya lah”). Sy menanyakan bengkel  terdekat, katanya ada, tapi harus menyebrang kesebelah.  Trus si bapak tanya :
“motornya kenapa?
“gag tau ini pak, tidak mau jalan, padahal bensinnya full, bisa di gas juga” jawabku
Si bapak memeriksa kondisi  motor, “ini ada yang putus di dalam dek,”
(saya tepok jidat. Selama memiliki motor sendiri, kerusakan paling fatal yang pernah di alami adalah accu motor rusak. Ini malah ada sesuatu yang putus, aduuuhh,, apa yang putus yaa? Udah pengen nangis. Bayangin,  jam 04.29, jalanan masih sepi, tahan ngantuk, gag bawa hape, gag bawa uang, gag tau soal motor-motoran *taunya naek motor doang. Yaa Tuhaan, dosa apa ini)
Saya memutar otak kembali, gimana caranya biar motorku bisa menyebrang ke jalanan sebelah. Aduuh, gimana caranya melewati  trotoar pembatas jalan? Si bapak, kemudian membantu. Motorku di dorong hingga ke jalan sebelah, trus di parkir di halaman salah satu bengkel yang berjejer. Sy titip pesan ke bapaknya, kalau yang punya bengkel sudah buka, nanti bilang saja yg punya motor nanti balik ke sini secepatnya.
Kemudian Saya cari taksi, dan pulang untuk memejamkan mata barang sejam. Tapi sama saja, mata sudah sulit terpejam, dalam hati berkecamuk, apa kabar motorku? Yang rusak apanya ya?
Sekitar jam 08.00 sy kembali ke bengkel tempat peraduan motor matic tercinta parkir dengan manisnya.  Teknisi di bengkelnya sudah ada, katanya
“ini yang putus tali Fan beltnya dek”
“apa pak? Tali bampel”
“iya, tapi bengkel disini tidak jual, coba di bengkel sebelah”
Saya ke bengkel sebelah, tanya-tanya “jual tali bampel gag”? ternyata gag ada yang jual. Saran dari si teknisi, motorku di dorong kerumah saja dulu, nanti besok di bawa ke bengkel resmi (karena hari itu hari minggu, jadi bengkel  resmi gag ada yang buka). Sumpah. Ini kiamat sugra. Gag menyerah sampai disitu, “pak, saya titip motor sebentar lagi ya, saya mau panggil adek dulu untuk dorong motor” kataku pada si teknisi. Dan di jawab dengan anggukan mellow.
Saya telpon si adek junior, dia siap membantu. Pas lagi ngobrol soal motorku yang rusak, sy kaget dengar kata-kata si adek “kak thutti, nanti kita beli tali fan belt saja di luar, trus minta tolong orang di bengkel  tempat motor di titip untuk dipasangin”
Saya melotot, “apaah? fan belt? Bukannya bampel?
Adek juniorku tertawa terbahak-bahak sambil mengejek  “kak thuti, tali fan belt, bukan bampel”
Ampuuun, mukaku merah merona kayak udang rebus.  Sakitnya tuuh di sini, #nunjukotak sambil gigit2 mainan kunci#  Malu luar biasa. Masalahnya, dari  semua bengkel yang saya masuki, pertanyaan nya sama “JUAL TALI BAMPEL GAG?? Astagaaa, pantas saja waktu saya  tanya, semua pemilik bengkel semacam bingung, terus bilang gag ada.  SIALAN!
Ah, ini gara-gara si teknisi nih, saya kan tadi masih sempat tanya juga, “apa? Tali bampel???
Haduuhh, saya yang dongo, atau si teknisi yang gag dengar. Ampuunn Tuhaan.......
Singkat cerita, tali banpel cetar membahana badaipun ketemu di salah satu bengkel. Si teknisi  bekerja, dan motorku sehat kembali.
Pelajaran hari ini, jangan menyepelehkan pengetahuan meskipun itu bukan bidang mu.