Selasa, 14 Juni 2016

Hujan

Saya sengaja tetap menjadikan “Hujan” sebagai judul tulisan ini. Mungkin ini sedikit sama dengan Lail (tokoh gadis dalam buku Hujan by Tereliye) dalam mengartikan hujan. Ketika Lail melewati berbagai peristiwa menyedihkan maupun membahagiakan saat hujan, saya pun demikian. Benar kata Maryam (sahabat karib Lail dalam buku Hujan), ada masa-masa dimana kita membenci hujan. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Hujan akan terus turun ke bumi. Entah ketika musim hujan ataupun tidak. Kondisi bumi yang semakin tua menjadikan musim semakin tidak beraturan. Mau tidak mau, kita akan menyukai hujan (menurutku, kamu harus setuju dengan ini, tapi klo gag setuju yaa, gag pa2).
Tulisan ini sebenarnya tentang optimisme. Hidup yang tidak melulu harus di hujat. Mengapa harus begini, mengapa harus begitu, mengapa harus ketemu si ini, mengapa dipisahkan dengan si itu. Mungkin kita lupa, dalam hidup akan selalu ada perubahan. Tugas kita sebagai manusia adalah siap menerima setiap perubahan itu. Mau tidak mau, suka tidak suka. Lama-lama akan terbiasa. Semua butuh waktu dan proses. Terlalu naif jika kita menghabiskan waktu hanya untuk menggerutu pada Sang pencipta.
Awal april lalu, saya diperkenalkan teman dikantor dengan salah satu drama korea “Descendants Of The Sun (DOTS)”. Saya memang penggemar drama korea (drakor) sejak SMP, tapi bukan penggemar yang alayers ababilers. Bukan penggemar yang sampai bahasa sehari-harinya harus ala anak korea. Jika ditanya, sehari-hari saya lebih suka berbicara dengan bahasa Inggris dibanding bahasa korea (penting gag sih, hahah).
Terlepas dari pemeran DOTS yang ganteng dan cantik juga peran ciamiik dari keduanya yang bisa bikin kasmaran akut,, saya sangat mengapesiasi pesan dari drama ini. Tentang kegigihan seorang dokter muda di daerah konfilk. Tentang bagaimana profesionalitas, kemanusiaan dan masalah pribadi. Memilah milih mana yang paling utama dan mana yang harus dikesampingkan. Mengatakan iya jika sesuai prosedur dan menentang jika tidak sesuai. Memang sudah seharusnya seperti itu. Terlalu banyak kebijakan malah menjadikan kita lemah. Menjadikan kita banyak membuat alasan yang terlalu dibuat-buat agar masuk akal. Saya sepakat dengan kalimat “orang bijak adalah orang yang tidak selalu meminta maaf”.
Kita kembali ke novel Tereliye. Saya pernah liat beberapa postingan teman di media sosial Facebook yang sedikit memojokan isi dari novel Tereliye. Yang menganggap para pembaca novel Tereliye akan menjadikan orang memiliki pribadi melankolis bahkan lebay. Yang menurut mereka isi dari novel Tereliye hanya akan menciptakan generasi-generasi alay. SAYA TIDAK SETUJU. Saya adalah pecinta novel tereliye tapi saya tidak alay. Yes, yang menjadikan orang alay atau tidak adalah bagaimana cara masing-masing pribadi menyikapi isi novel. Saya pribadi berpendapat, dari beberapa novel Tereliye yang sudah saya baca, isinya penuh dengan optimisme, kerja keras, sejarah bahkan pengetahuan. Tentang konflik-konflik kecil dalam keluarga, tentang bagaimana menghargai sebuah perjuangan, tentang masalah-masalah kehidupan. Tidak peduli dengan kata puitis yang ada didalamnya. Menurutku itu hanya sebagian dari bumbu novel agar isinya tidak terlalu monoton.
“Daripada sibuk mengkritik karya orang lain, sebaiknya kita menciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukankah terlalu banyak mengkritik pertanda hati yang dengki?”
Tentang hobi membaca, saya sedikit bercerita. Semenjak SD, saya memang suka membaca. Mungkin saat itu karena bapak adalah seorang Guru, yang setiap pulang sekolah bapak selalu membawa buku-buku bacaan anak. Selain itu, saya juga suka membaca atlas. Dari atlas saya seperti melihat dunia secara nyata. Diusia SD, saya sudah membayangkan bagaimana hidup di Eropa yang penuh dengan salju, hidup di Timur Tengah yang panas, membayangkan berkeliling Indonesia. Saat itu, kota yang ingin saya kunjungi adalah Minangkabau (keinginan itu masih ada sampai sekarang).
Hobi baca berlanjut hingga dewasa. Saya lebih memilih menghabiskan uang ratusan ribu untuk membeli buku daripada membeli baju. Meski buku yang saya sukai hanya sebatas buku biografi dan novel, tapi menurutku itu bermanfaat.
Kembali ke novel “Hujan’. Membaca novel hujan menjadikan saya menghayal kemasa depan. Dari isi novel itu, kita seakan-akan menjadi generasi manusia paling canggih. Mulai dari tempat tinggal, cara berkomunikasi jarak jauh, perubahan iklim, cara bertransaksi, semuanya serba canggih. Dibuku itu tertulis ditahun 2044, kita sepertinya menjadi generasi yang segala sesuatunya serba mudah. Tidak ada kata sulit di masa itu.
Dari novel Hujan, saya belajar bagaimana kita menghargai waktu, menghargai apa yang kita miliki. Karena dimasa yang serba canggih itu, ada satu yang tidak boleh kita lupakan. Dalam sekejap, jika Sang Maha Memiliki berkehendak maka tidak ada yang mustahil. Ketika beberapa menit lalu Lail baru saja berkomunikasi dengan ayahnya dengan menggunakan fitur tercanggih di masa itu, dalam sekian menit, Sang Maha Memiliki merubah segalanya. Mengguncangkan bumi dan isinya, memporak-porandakan seluruh isi kota. Hanya beberapa orang yang selamat dalam peristiwa itu. Termasuk Lail dan Esok. Ayah, Ibu dan saudara terdekat hilang bersama peristiwa naas itu. Semua orang mengenang peristiwa itu sebagai salah satu peristiwa besar yang mengajarkan kita mensyukuri apa yang telah kita punya. (alur tulisannya kayak meleset yah).

Novel Hujan mengajarkan saya kata optimisme, kerja keras, siap menerima setiap perubahan dan tetap berpikir positif.

Sabtu, 02 April 2016

Jarak adalah angka

 Part I
Jumat, 25 Maret 2016

Perjalanan kita dimulai dengan kata rindu. Keputusan ini tergolong nekat menurutku. Mengandalkan libur 3 hari, saya langsung mengiyakan permintaan mama via telepon untuk pulang ke rumah. 
"Jarak Sidrap-Baubau itu jauh loh, tidak cukup waktu 3 hari untuk pulang" lagi lagi teman kantor mengingatkan. Dan saya tidak peduli. Harus pulang, kataku dalam hati. 
Semenjak jauh dari keluarga, momen pulang kerumah adalah hal yang sangat menyenangkan. Mungkin karena tergolong momen-momen langka, jadi semua terasa sangat berharga. Dipisahkan ribuan kilometer darat dan lautan menjadikan rindu ini menggebu di setiap hari.
Rindu yang terbungkus rasa bangga. Yaa, betapa bangganya bapak karena anak perempuannya yang selalu dianggap bayi manja kini mandiri di negeri orang. Tanpa sanak saudara. Bayi manja yang kini hidup bermodal rasa berani dan nekat. Membunuh setiap perasaan takut karena perbedaan kultur dan bahasa.
Kota pangkajene (ibukota kabupaten sidrap) sebenarnya bukanlah lokasi yang sangat baru. Hampir 10 tahun bermukim di kota Makassar,  tentu sudah sangat mengenal gelagat dan kultur suku bugis. Mungkin karena keterbatasan jarak dan waktu sehingga semua terasa sangat jauh.
Pagi itu, saya sigap mempersiapkan semua barang bawaan yang akan dibawa ke Baubau.  Saya pastikan tidak ada yang tertinggal. Tas berisi perlengkapan makeup, carger, headset, sandal, baju dan novel  sudah dikemas dengan baik. Setelah memastikan semua lengkap, saya siap meluncur kebandara. Kali ini di antar si mr. Jericho (adek laki-laki ku yang saya beri julukan chiko Jericho).  Menurut jadwal, keberangkatan pesawat yang akan saya tumpangi nanti tepat pukul 10.20.
Tiba di bandara, jam di handphone menunjukan pukul 08.50 artinya keberangkatan masih  1 jam 30 meinit lagi. Perut sepertinya butuh di isi. Saya dan si lil brother menuju salah satu makanan cepat saji milik orang Amerika. Sambil makan, si Jericho greget bertanya, pulang ke baubau dalam rangka apa? Saya jawab, pulang silaturahim saja. Trus kata dia, enak yaah klo sudh kerja bisa pulang semaunya. Saya tidak menjawab apa-apa selain menyuruh dia segera menghabiskan makanan. Mungkin dia harus tau, bahwa dari lubuk hati yang paling dalam si anak rantau ini sebenarnyan tidak seperi yang dia bayangkan, harus pandai memilah dan memilih waktu yang tepat setiap kali ingin pulang.
Usai makan, saya segera  chek in dan bergegas keruang tunggu. Waktu keberangkatan 20 menit lagi. Saya keenakan becanda sampai hampir lupa jadwal keberangkatan.
Ada peristiwa tak terduga ketika saya akan naik pesawat. Sambil menunggu para penumpang naik, saya berteduh dibawah sayap pesawat.  Udara di parkir pesawat  panas sekali dan saya sengaja tidak terburu2 naik, membiarkan para penumpang lain saling serobot lebih dulu. Toh nomor kursi masing-masing penumpang sudah tertera di pass boarding. Lagi di bawah tangga pesawat tiba-tiba punggungku dicolek seseorang.  Saya  berbalik, ternyata dia adalah adik kelas saya semasa SMA. Waah, belum sampai di baubau saya sudah ketemu teman saja. Tak berapa lama, ada wajah lain yang lebih mengejutkan. Namanya Emi Fitriani, dia teman sejak SMP, 1 tingkat dibawah saya. Tapi dulu saya dan EMi akrab sekali. Kami memang sering menjadi perwakilan sekolah karena sama-sama berprestasi. Entah kapan terakhir bertemu dia. Seingatku semenjak berseragam abu-abu. Setelah itu saya lulus 1 tahun lebih dulu, kemudian sibuk dengan takdir masing-masing dan hilang bersama kesibukan.  Saat itu, bersosial media memang tidak segampang sekarang.  
Dan saking jodohnya, saya dan Emi berada di 1 seat yang sama. Saya 20C dan dia 20A. Satu  jam di pesawat  benar-benar berharga. Kami saling bercerita pengalaman kerja masing-masing. Karena sesudah ini, entah kapan kami akan bertemu lagi. Emi sekarang bertugas di BPS kab. Dompu, lebih jauh dari tempat saya di tugaskan. 
Dan 1 jam 15 menit berlalu. Ban pesawat sudah menyentuh lantai parkir bandara Betoambari, Baubau. Saya tidak sabar ingin segera memeluk bapak. Terakhir mendengar suaranya 1 jam yang lalu sebelum pesawat terbang. Bapak memastikan jam keberangkatan, saya pun memastikan bapak sudah dibandara atau belum.  Penumpang baru saja dipersilahkan turun, saya dan emi belum turun. Kita sibuk mengabadikan momen.  Foto-foto itu semacam ritual wajib ketika ketemu teman lama.
Baiklah, penumpang sudah agak sepi, saya langsung pamitan sama si kawan lama. Dan berlari menuju ruang tunggu. Dari pelataran parkir pesawat, saya sudah lihat tubuh tua yang selalu membanggakan itu. Bandara Betoambari Baubau tidak sebesar bandara international Hasanuddin, sehingga para penjemput bisa kelihatan dari dalam. Saya benar-benar tidak sabar memeluk bapak. Seperti anak rantau yang  tidak pulang bertahun-tahun yaa. Padahal baru beberapa bulan lalu saya ketemu bapak. Agak lebay yaa barangkali, tapi entahlah. Mungkin karena ini kepulangan tak terduga. Jadi rindunya menggebu menggunung tak terdefinisi.
Kelihatannya bapak bahagia sekali memastikan si bayi mungilnya sehat dan bahagia. Saya dan bapak bergegas pulang. Karena di rumah ada mama, kakak dan si kecil Kayla (anak kak Tanti yang berumur 3 tahun) yang tidak sabar menunggu.
Perjalanan kami kerumah harus menempuh rute darat selama kurang lebih 1 jam. Saya di jemput dengan motor kesayangan bapak, hadiah ulang tahunku ketika berusia 25 tahun. Kali ini disambut hujan yang lumayan deras. Bapak sudah mengantisipasi itu. Kata bapak, Kita tidak perlu berteduh bapak sudah menyiapkan 2 pasang jas hujan. Bapakku memang luar biasa.
Kita tidak perlu berlama-lama dengan hujan, 30 menit kemudian hujannya reda. Bapak berhenti sebentar untuk melepas jas hujan, saya pun begitu. Kata bapak, kita harus kelihatan oke pas sampai di rumah nanti. Saya tertawa dan kagum. Di usia seperti ini, bapak masih memikirkan soal penampilan yang oke.
Sampai 1 jam berlalu. Saya tiba di rumah. Di sambut Kayla yang masih malu-malu. Mungkin merasa wajahku masih sangat baru di ingatannya. Saya dan Kayla memang sangat jarang ketemu.  Waktu kebersamaan kami memang tidak seperti Kayla dan adikku, Yati. Semenjak Kayla lahir, saya bertemu Kayla hanya ketika pulang kampung saja. Yang jadwalnya adalah sekali pertahun selama 2 minggu.  Beda dengan Yati, yang lebih banyak memiliki waktu kebersamaan dengan sikecil lucu ini. Jadi wajar jika Kayla agak segan ketika saya sapa dan langsung sok akrab.
Sama mulai merayu Kayla dengan berbagai trik. Pinjamin Kayla handphone, ajak main, ajak foto-foto, cerita ini itu, sampai akhirnya Kayla luluh dan mau di gendong.
Mama dan kakak tak terbendung bahagianya. Sayapun begitu. Apapalagi melihat sajian di dapur. Ada makanan favorit kami bertiga (tatuya) makanan khas pulau buton. Segala masalah dan resah di hati hilang seketika.
Saya tidak menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu. Ini benar-benar quality time bersama keluarga. Kepulanganku hanya untuk mereka.
Kami menghabiskan sore hingga malam dengan berbagai macam topik pembicaraan. Tak lupa saya memberi kabar  buat sibungsu yang jauh di seberang sana. Andai jarak sangkulirang baubau sama seperti jarak sidrap-baubau mungkin di libur 3 hari ini dia juga bisa pulang.
Sampai pukul 23.00, saya, mama, kayla dan bapak masih saling becanda.  Malam ini kakak ipar tidak pulang karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan di  counter. Saya tidak berhenti bersyukur di lahirkan di tengah keluarga yang luar biasa ini. Hingga kami semua terlelap, saya masih merasa ini seperti mimpi, pulang kerumah tidak pada saat cuti atau libur lebaran.
Ini tentang si anak rantau yang selalu rindu pelukan keluarga. Yang selalu rindu tempat berpulang. Tentang si bayi kecil yang kini mandiri di tanah bugis. Mungkin orang lain menganggap ini sangat biasa. Tapi bagi si anak rantau ini, momen bersama keluarga adalah hal yang sangat berharga. Tak cukup pertemuan sehari-dua hari,, takboleh berpisah  terlalu lama. Si anak rantau ini pasti butuh tepat berpulang. 

to be continued...

Minggu, 20 Maret 2016

O'Kopi, Kopi'O (Mengapa harus Suka Kopi)

Sidenreng Rappang, 20 Maret 2016

Kopi adalah…?? 
Setiap orang mendeskripsikan kopi dengan makna yang berbeda. Bagiku, kopi obat sakit kepala. Dalam suasana resmi atau sedang melakukan pekerjaan penting, atau sedang training, meeting atau stay di bangking Hall (sesuai job deskripsiku sebagai serang Teller Bank), kepalaku terasa sakit jika menahan rasa kantuk. Padahal di hari lain, hari libur misalnya, saya malah tidak merasakan kantuk sama sekali. Dan salah satu obat rasa sakit kepala itu adalah cafein.
Entah sejak kapan saya memulai kebiasaan ini. Terjadi dengan cepat dan bias. Sama seperti sedang mengamati seseorang yang berkharisma, berkarakter dan tampan tiba-tiba jatuh cinta. (baper yaah? Hahahh). Tapi begitulah kejadiannya. Kejadian cinta pada kopi maksudnya.
Seingatku, awal mengakrabkan diri dengan kopi ini ketika masih aktif di Persma. Namanya juga mahasiswa, nongkrong sana nongkrong sini. Dan tidak lengkap jika tanpa kopi. Bukan soal gaul atau tidak, hanya saja ketika diskusi memang kami membutuhkan kopi untuk menyumpal kelopak mata yang selalu ingin ketemu.
Pernah ada satu kejadian. Waktu itu sedang ada konsolidasi sekjend kota PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia)  se-Indonesia di Yogyakarta yang bertepatan dengan Dies Natalis PPMI. Konsolidasi diadakan pada malam hari, sekitar pukul 23.30, para sekjend kota sudah berkumpul ada juga beberapa senior yang berasal dari angkatan masa lampau. Di jam selarut itu ketika para sekjend yang mayoritas lelaki sedang aktif-aktifnya berdiskusi dan berdebat, saya (sebagai Sekjend PPMI kota Makassar) yang tidak terbiasa melakukan aktifitas diskusi malam tentu menjadi momok yang menyebalkan. Ketika yang lain sudah tidur pulas, kita yang katanya manusia-manusia pilihan (katanyaaa pilihan,, apalaahh) malah di paksa mengikuti rutinitas seperti ini. Rutinitas kaum aktifis kampus. Bagi saya (perempuan yang baru saja terpilih menjadi sekjend kota) ini benar-benar menyebalkan. Mengapa diskusinya tidak dilaksanakan di siang hari saja?
Singkat cerita, sekjend kota sudah berkumpul, diskusi pun di mulai. Sepuluh menit berlalu, rasa bosan sudah mulai mampir perlahan. Hingga kantuk juga ikut-ikutan menyerang. Tak bisa tertahan, saya memperbaiki posisi duduk, kebetulan duduk paling belakang. Dan rebah. Saya tidur. Teman sekjend yang duduk di sampingku (sebut saja namanya Rama)  tidak berani mengganggu, karna sebelumnya saya sudah mengingatkan bahwa saya mengantuk, dan jika tertidur jangan sampai di ganggu. Berita buruknya, semua isi diskusi tidak tercatat sebarispun. Ah, tapi itu gampang, nanti tinggal meminta catatan  sama Rama. Dan berita baiknya saya terbangun sebelum diskusi selesai dan tidak ketahuan ketua diskusi. Ah, ini benar-benar membosankan.
Ketika diskusi selesai, ketika orang-orang sudah mulai mengantuk, saya malah tidak merasakan kantuk sedikitpun. Baiklah, mungkin ini waktu yang tepat untuk mencatat isi diskusi yang baru saja selesai, sebelum di mintai pertanggungjawabannya besok. Saya menemui Rama untuk meminjam catatan. Rama termasuk teman yang baik, yaah meski sedikit menyebalkan, karena sebelum meminjamkan catatan, sy di omeli abis-abisan karena tidak mengikuti diskusi dengan maksimal dan hanya meminjam catatan. Salah satu omelan nya :
“coba deh, minum  kopi skali skali” katanya tanpa penjelasan kenapa harus minum kopi.
Saya berpikir keras (sekeras menjalani kehidupan), ini menarik boleh deh di coba. Dan sepulang ke Makassar, saya mulai berkenalan dengan kopi (bukan kopi hitam) dan alhasil sekarang, saya adalah wanita pecinta kopi.
Setelah memasuki dunia kerja, kopi tentu bukan hal asing di kantor. Beberapa karyawan temasuk atasan selalu melakukan rutinitas ngopi pagi. Banyak statemen yang tercipta untuk ngopi di pagi hari. Saya suka menjuluki “ngopi dulu, biar gag galau”. Ini bukan persoalan baper, hanya saja jika tidak minum kopi di pagi hari konsentrasi akan buyar. Rasa kantuk seakan terpanggil sendu mengosongkan udara di otak, menggantinya dengan bantal, kasur dan selimut.
Sampai ada beberapa teman dan kakak perempuan yang bertanya-tanya. “Perempuan kok ngopi” katanya. Saya tertawa saja. Sepertinya orang yang bertanya seperti itu mungkin sewaktu muda mainnya kurang jauh.

Bukankah jaman sudah semakin maju?? Di jaman modern dan serba ada seperti sekarang ini, anda bisa menikmati berbagai jenis kopi sesuai selera. Anda bisa memilih berbagai macam kopi, mulai dari kopi domestic hingga racikan luar negeri.
Apa yang salah dengan perempuan yang suka ngopi? Bukankah kopi bukan Narkoba atau Nikotin yang resikonya sangat fatal? Kopi hanya sebatas kafein yang sebenarnya punya banyak  manfaat. Meski setiap unsur ada sisi positif dan negatifnya, namun yang harus di ketahui adalah, seberapa besar porsi positif yang di hasilkan oleh kopi.
Lalu, manakah kopi yang berbahaya? Kopi yang berbahaya adalah kopi yang berlebihan. Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebihan pada suatu hal.
Minum secangkir kopi di pagi hari saat perut kosong misalnya, ini dapat memicu sekresi asam klorida dalam saluran pencernaan. Pada orang yang memiliki masalah lambung efeknya akan lebih cepat terasa. Apalagi untuk anda yang makan secara tidak teratur, asam klorida yang berfungsi untuk mengurai makanan tidak dapat bekerja dengan baik dan sulit menyerap protein.
Atau, minum kopi lebih dari 5 gelas sehari. Minum lebih dari 5 gelas kopi perhari akan meningkatkan kadar kolesterol jahat dan kadar trigliserida, yang menjadikan darah lebih pekat, sehingga mengakibatkan penyempitan lubang pembuluh darah akibat endapan lemak, yang beresiko mengundang serangan jantung dan stroke.
Dan beberapa hal negatif lain dari kopi. Tidak di perbolehkan untuk wanita Hamil, wanita yang sedang haid dan setelah meminum obat. (penjelasannya cari di Google mi deh).
Namun, kopi juga memiliki banyak manfaat. Selain manfaat untuk kesehatan, juga ada manfaat untuk kecantikan.
Kopi dapat meningkatkan energy karena memiliki stimulant yang di sebut kafein, zat psikoaktif yang sangat umum dikonsumsi di bumi ini. Kopi meningkatkan berbagai aspek dalam otak. Termasuk memori, konsentrasi, suasana hati, tingkat kewaspadaan, energy dan masih banyak lagi.
Untuk yang mau diet, kopi juga bisa menjadi solusi. Kafein merupakan satu-satunya zat alami yang mampu membakar lemak. Di beberapa studi, kafein dapat meningkatkan tingkat  metabolisme tubuh 3-11 %.
Dan yang paling penting, kopi bisa menurunkan resiko Diabetes II, Melindungi anda dari Alzheimer dan Dimensia, melawan rasa depresi dan peminum kopi memiliki resiko rendah terhadap beberapa jenis penyakit Kanker.

Pesan saya, jangan berlebihan. Karena gaya hidup juga menjadi pemicu munculnya berbagai macam penyakit.