Kamis, 14 April 2011

Aku, Kenanganku dan PPMI

Saat  mataku terbuka dan menyongsong  fajar,  aku sudah menyiapkan diri untuk menyambut keajaiban Tuhan yang akan terjadi padaku hari ini. Ya, hari ini. Bukan besok, lusa atau kemarin. Apa yang akan kulakukan hari ini? Agh, tapi apa yang sudah kulakukan kemarin? Rasanya aku belum melakukan apa-apa.
Antara aku, kenanganku dan PPMI
Saat ku teringat kembali, ketika masa itu harus kuterima, sehingga masa-masa itu harus kulalui.  Benar kata orang-orang, meraih sesuatu lebih mudah daripada mempertahankan.  Dan aku mulai menerima tantangan yang akan menjadi bagian dari hidupku. Tantangan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tidak ku inginkan.
Aku mulai mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Perasaan yang seharusnya bisa membuatku bangga setengah mati. Tapi aku terus tetap pada pendirianku, yang membuatku ego dan sangat konyol. Hatiku teriris di saat inderaku terpaksa menyaksikan ragaku yang kian jatuh. Seburuk itukah posisiku? Paranoid!
Ku langkahkan kakiku dengan tertatih, menapakan jejak ku di atas kerikil tajam, ditengah gurun pasir yang sangat panas. Hatiku terkadang menjerit, bila mengingat waktu di saat masa itu belum berlaku. Sesekali desiran angin mencoba menyapaku. Tapi aku terus terlena dengan jeritanku yang perlahan sudah tidak terdengar lagi. Anginpun bosan dan kini enggan menghampiriku. Aku terpuruk semakin jauh dan semakin dalam. Tanpa ku sadari aku telah menangis di saat aku menutup mata.
Kini, saat hatiku di balut oleh senja aku mulai sadar. Aku tidak akan membiarkan ketakutan-ketakutan itu terus menyapaku. Aku tidak hanya sekedar bermimpi manis dalam ketakukutan-ketakutanku, tapi aku tengah menjejaki masa-masa indah yang sesungguhnya tidak kusadari. Mungkin kemarin aku terlalu tenggelam dalam keasyikan  yang membuatku mati dan beku. Hingga aku kini menyesali dan mengutuk penat ku sendiri. Dan kini aku tahu, aku adalah dirimu.
Antara aku, kenanganku dan PPMI
Kini masa-masa itu akan segera berakhir. Aku hanya bisa menggunakan hatiku untuk menggali kembali kenangan pahit yang kubuat sendiri. Kenangan pahit yang akan menjadi pijakan awalku untuk sesuatu yang lebik baik. Walau aku harus melukai diriku sendiri melalui kebodohanku asal aku tidak akan kehilangan kebahagiaan bersamamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar