Senin, 18 April 2011

IMAKAB Bukan hanya untuk Makassar


Setiap kondisi kehidupan akan mengalami siklus pergantian. Pergantian tempat, keadaan, kondisi dan generasi. Begitupun organisasi. Perlu adanya proses regeneralisasi untuk tetap mempertahankan kondisi organisasi agar tidak berjalan ditempat.
IMAKAB (Ikatan Mahasiswa Kabupaten Buton ) Makassar juga mengalami fase ini. Kongres. Setelah beberapa waktu panitia pelaksana berjuang keras untuk menyukseskan kegiatan ini. Dan akhir april dipilih oleh panitia untuk melangsungkan suatu proses kegiatan yang dianggap sangat penting dan sacral.
Kongres IMAKAB IV Makassar berlangsung di Benteng Somba Opu pada tanggal  15 – 17 april 2011. Kongres ini di ikuti oleh seluruh mahasiswa yang berasal dari kabupaten Buton yang  tengah melanjutkan studi dimakassar. Kongres yang berlangsung selama dua hari ini banyak melahirkan perubahan. Mulai dari pola pikir anggota hingga kondisi IMAKAB itu sendiri.
Laporang pertanggungjawaban pengurus di wakilkan oleh sekretaris umum IMAKAB ( Muliyadin )  karena ketua umum sendiri tidak bisa hadir. Bukan karena tidak ada tanggung jawab tetapi terhalang  masalah yang sangat mendesak. Namun hal ini tidak mengurangi keabsahan suasana kongres. Suasana kongres pun semakin semangat karena sebagian besar  peserta kongres adalah mahasiswa baru angkatan 2009 dan 2010, yang mana mereka masih mempunyai semangat yang sangat menggebu-gebu untuk kemajuan IMAKAB. pokoknya Hidup IMAKAB.
Dalam suatu kongres, pemaparan LPJ, pembahasan AD/ART, GBHO dan pemilihan ketua baru adalah prosesi yang wajib dibahas di kongres.  Ini pun di bahas dalam Kongres IMAKAB. Pembahasan AD/ART berlangsung cukup a lot. Berdebat dan  saling mempertahankan pendapat. Memang seperti inilah potret mahasiswa. Perdebatan itupun akhirnya mencapai kesepakatan.
Pemilihan melibatkan 3 calon ketua, Alizona/08 (Kec. Wolowa), Arham/08 (kec. Sampolawa) dan Mansur/09 (kec. Pasarwajo). Hingga pada penghitungan suara, jumlah suara yang diraih oleh Alizona dan Arham, sama. Sehingga kongres memutuskan untuk mengadakan pemilihan sekali lagi dengan 2 calon ketua yaitu Alizona dan Arham. Dan kongres pun mencapai hasil, dengan kemenangan Alizona sebagai Ketua IMAKAB 2011-2012. perbedaan jumlah suara sangat kecil, Alizona 17 suara dan Arham 14 suara.

Namun ada yang berbeda di Kongres IMAKAB kali ini. 3 hari 2 malam berkongres ria. Di damping oleh dewan Pembina sekalius salah satu pendiri IMAKAB, kak Saden. Beliau membuka wacana baru dalam Kongres  dan  memaparkan sebuah mimpi kepada IMAKAB agar menjadi suatu organisasi daerah yang besar dan berwibawa. jika 4 tahun berjalan sejak berdiri tanggal 3 juni 2007  organisasi ini bernama IMAKAB Makassar, maka kak Saden menitipkan mimpi untuk mengganti dengan IMAKAB Indonesia. Sekali  lagi IMAKAB Indonesia. Terjadi pro dan kontra tentang pergantian nama ini.
Penjelasan dari kak Saden cukup simple dan dapat dimengerti. Salah satu ujuan dari pergantian nama ini adalah untuk menghindari diskriminasi kepada mahasiswa yang berasal dari kabupaten buton dan melanjutkan studi di luar Makassar. Dengan menyandang nama IMAKAB Indonesia mahasiswa di luar Makassar juga memiliki dan menjadi bagian dari IMAKAB.
Namun terlalu banyak ketakutan-ketakutan yang kemudian muncul dari pengurus dan anggota baru. Pengurus belum terlalu berani dan kritis untuk mengambil sebuah keputusan terkait mimpi besar ini. kemungkinan belum terlalu paham dari apa yang dimaksudkan oleh kak Saden.
Masalah pergantian nama  cukup rumit dibahas. Meski begitu kak Saden terus menglogikakan tujuan dari pergantian nama ini. Intinya tidak ada maksud lain, hanya untuk membesarkan nama IMAKAB.  Hingga Pengurus baru terpilih, masalah inipun belum tuntas. sehingga pengurus baru terpilih berinisiatif untuk menyetujui gagasan ini. Dengan segala cara pangurus baru berusaha meyakinkan anggota IMAKAB untuk berani  mengambil sikap dalam mencapai suatu mimpi.
“Bagaimana kita tahu kalau kita bisa  dan mampu melakukan sesuatu atau tidak, jika tidak pernah mencoba “. Ini adalah salah satu kata-kata spirit sehingga kita berani mengambil sebuah pilihan. Sehingga Kongres menyetujui pergantian nama ini dengan melewati perdebatan yang cukup panjang dan menegangkan.
Pasca kongres, IMAKAB tampil dengan nama baru yaitu IMAKAB Indonesia. kini IMAKAB bukan hanya milik mahasiswa Makassar, namun telah menjadi milik semua mahasiswa yang beradal dari Kabupaten Buton, meski mereka tidak melanjutkan studi di Makassar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar