Kamis, 05 Mei 2011

Haratai, Mengenal Budaya Dan Kehidupan Suku Dayak Meratus



Suku dayak. Apa yang pertama terpikirkan setalah mendengar kata ini? Pedalaman? Manusia berlubang telinga panjang? Atau primitive? Lalu bagaimana jika suku dayak telah terjamah oleh dunia modernisasi?


Suku dayak kali ini mungkin agak beda. Dayak Meratus, tepatnya di pegunungan Meratus, desa Haratai kecamatan Loksado kabupaten Hulu Sungai Selatan, provinsi Kalimantan Selatan. Meski berasal dari suku dayak asli, namun di kehidupan sehari-hari mereka telah  mengenal banyak tentang modernisasi. Listrik masuk desa, media visual, dan telekomunikasi.

Di desa Haratai listrik mulai masuk sejak tahun 2010. Bermula sejak Syukran (38)  menjadi kepala desa pada tahun 2009. Beliau adalah warga suku dayak meratus asli, namun pernah mengecap dunia pendidikan di Pulau Jawa. Bekerja sama dengan salah satu lembaga penelitian tekhnik dari ITB, Syukran mencanangkan Desa Mandiri Energi di desa Haratai. Karena salah satu cita-cita beliau adalah persepsi orang-orang tentang suku dayak tidak selalu berada dalam kondisi keterbelakangan. Terhindar dari kata-kata primitive dan kebodohan. Bukan hanya itu, media visual (televisi) dan telekomunikasi (wartel) juga ada di desa ini.  Bahkan banyak dari warga di desa ini yang telah memiliki kendaraan bermotor.

Dari segi pendidikan, desa haratai juga tidak ketinggalan jauh. Ada Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang didirikan di desa ini. Dilihat dari kondisi bangunan, SDN ini suah ada tidak kurang dari 10 tahun yang lalu. Yang menjadi kendala adalah kurangnya siswa karena keterbatasan penduduk yang bermukim di sekitar desa haratai. Sehingga untuk mengatasi masalah ini, kepala desa haratai menganjurkan kepada warganya untuk tidak mengikuti program KB demi memenuhi kebutuhan jumlah siswa dalam suatu sekolah dasar.

Namun hambatan lainnya adalah jauhnya lokasi sekolah lanjutan (SMP dan SMA). Karena untuk mencapai sekolah lanjutan warga harus ke Kecamatan Loksado dengan menempuh jarak 8 km. Sedangkan di desa sendiri masih banyak kegiatan-kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sehingga banyak warga yang memilih berhenti sekolah. 
Untuk mata pencaharian, warga desa haratai bergantung pada pertanian (padi, karet, dan kelapa sawit).  Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga desa harus berbelanja langsung di pasar kecamatan dan ini tak mengapa bagi mereka.

Baik buruknya kondisi Ekonomi, tergantung pada cuaca dan iklim. Jika sedang musim hujan tiba, saat inilah yang membuat resah warga. Karena hasil tani akan tidak menentu. Sama halnya dengan kondisi pertanian di tempat-tempat lain, gagal panen.

Meski suku dayak di Haratai telah mengenal dunia modernisasi, mereka tidak serta merta lupa dengan budaya dan adat istiadatnya.

Di desa ini 90 % warga menganut kepercayaan Kaharingan dengan Sang Hyang Wanang menjadi tuhan mereka. Kalaupun ada beberapa warga yang menganut agama islam atau Kristen itu karena faktor perkawinan atau beberapa dari mereka yang sudah mengenal kehidupan di daerah lain sekedar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Dalam kepercayaan Kaharingan sendiri, tidak ada batasan atau larangan bagi penganutnya untuk berpindah keyakinan. Mereka telah paham betapa manusia di bebaskan untuk menentukan apa yang menjadi keyakinannya.

Dalam upacara adat, suku dayak di desa Haratai mengadakannya 3 kali dalam setahun, yaitu tolak bala, pesta  panen dan upacara bawanang. Upacara Tolak bala di adakan pada awal tahun untuk mengusir roh-roh jahat yang  kemungkinan akan menjadi pengganggu dalam kehidupan warga desa. Pesta panen di adakan saat musim panen tiba. Sedangkan upacara Bawanang adalah upacara yang di adakan pasca panen selesai, saat semua hasil tani telah rampung dikumpulkan. Tujuannya mensyukuri nikmat Sang Hyang Wanang. Semua upacara adat di laksanakan pada salah satu bangunan adat yang disebut Balai.

Budaya lamaran di desa haratai di awali dengan Petakon, yaitu pengiriman uang logam dari pihak laki-laki ke pihak wanita yang di wakilkan oleh tokoh adat yang telah dipercayakan oleh pihak laki-laki. Jika uang logam ini tidak dikembalikan dalam waktu yang telah disepakati, ini berarti lamaran diterima dan jika di kembalikan artinya ditolak.

Usai petakon, prosesi di lanjutkan dengan penyerahan Pasuruhan (piring yang berisi seserahan) kemudian barulah sampai pada proses penentuan jumlah mahar atau Baruji (Mahar biasanya bisa mencapai 10 juta).

Dan upacara kematian. Sesuai keyakinan yang di anut Upacara kematian dalam keyakinan Kaharingan di sebut Beta Pungtawa. Semua proses pemakaman tidak jauh berbeda dengan agama islam, dimandikan, dikafani dan di kuburkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar