Selasa, 02 April 2013

AKU BUKAN ALEXANDRA


Catatan Kecilku…

Ketakutan apa ini? Mengapa begitu terbebani dg rasa yang seharusnya  menjadi anugrah untuk kita? Kisah ini seperti Alexandra dalam film Alexandria. Wanita yang resah memperlakukan rasa yang sebenarnya sudah diketahui arah tujuan nya.  Kamu, Bagas, lelaki yang hanya bisa bersembunyi di balik kebodohan yang tak beralasan. Terlalu  lama menimbang rasa.

Aku, Kamu, Dia.
Kita ibarat bensin yang sedang bermain di dekat perapian, mengapa tak lekas terbakar (kata temenku).

Kita bukan senja dan gelap yang selalu berganti. Kita sebenarnya adalah gelap dan bintang yang saling membutuhkan. Bintang membutuhkan gelap untuk bersinar. Bintang butuh malam untuk menjadikan langit semakin indah. Kamu paham itu.
Timbang menimbang rasa yang tidak beralasan, menjadikan kita adalah beda. Naluri wanitaku bergulir. Aku bukan wanita masa kini yang segampang itu memulai. Mungkin karena aku terlalu teliti. Konsep masalalu yang mengurung semua anomaly hasratku. Tapi aku bukan trauma.
Bersamamu, ada keberanian baru untuk kembali mengabadikan segala hasrat. Kembali menyelami arti rasa yang sesungguhnya. Membuatku berada dalam titik kenyamanan. Meski aku menjawab dengan rasa yang sederhana, tetap istimewa bagimu. Katamu, aku tak istimewa, tapi aku tak terdefinisi.

Apa yang salah dengan hasrat? Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?

Cinta mungkin tak membutuhkan lafaz kalimat untuk berkomitmen soal rasa. Itu bagimu. Tapi bagiku, cinta soal komitmen. Bahasa tubuh tak cukup untuk menjawab semua kepastian. Karena cinta universal, aku ataupun kamu, bebas memaknai cinta dalam bentuk apapun. Karena kita akan berkomitmen untuk menjadikan beda adalah aku dan kamu. Sampai aku tidak benar-benar tahu, IYA atau TIDAK.

Tentang DIA, mungkin kalian sama. Sama-sama memberi warna. Meski dia lebih telaten memahami beda. Aku tahu kamu cemburu. Di satu sisi, aku bahagia tapi disisi lain resah pun kembali datang. Bagaimana harus memberikan pemahaman kepada dia. Tentang rasaku yang belum berujung.
Hingga aku mulai tegas memperlakukan takdir. Kembali lagi pada masa lalu ku. Kembali bosan dengan sikap tidak berujung. Karena perempuan itu sederhana, butuh kejelasan dan tanggung jawab.

Bagiku, kamu hanya sebagian kecil dari kejam kisahku. Meski kamu pernah jadi yang terbaik. Tapi ini soal prinsip hidup yang tak pernah terdigit. Aku berpikir dengan sederhana, dan kamu memperlakukan nya dengan sangat rumit.

Aku bukan Alexandra yang akan memilih satu diantara kalian. Aku adalah aku, yang tidak akan memberikan pilihan apapun. Karena kamu dan dia bukan undian, atau hadiah bagi pemenang. Jika ini malah memberikan efek jera pada rasa yang kalian tujukan padaku, aku semakin lebih tak peduli.

B+ nya adalah cinta itu universal dan sangat sederhana. Jika suka, mau dan ingin lekas katakan saja. Tidak ada yang salah dengan hasrat. Mungkin waktu yang sedang tidak tepat ketika hasrat itu datang.

@D’buzz, April 3, 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar