Selasa, 02 April 2013

Adrian dan Losari



Catatan Kecil...
19.31

Takdir hidup selalu menuntun kita untuk selalu membahagiakan diri sendiri. Karena, tak ada alasan untuk selalu berada dalam keterpurukan. Bahagia ataupun sedih, kita yang lebih paham bagaimana memperlakukan takdir. Tak ada takdir yang kejam, tapi bagaimana kita pandai memaknai hidup hingga menjadikan nya begitu indah.
Aku pun harus memaknai bagaimana indah nya senja. Senja yang selalu datang kemudian pergi dalam hitungan waktu yang singkat. Namun itulah senja, selalu datang di setiap sore. Untuk besok, besok dan besok hingga besok nya lagi senja pasti hadir, sampai Sang Maha Memiliki Keindahan yang akan menjadikan salah satu hari untuk akhir dari senja yang indah itu.

Losari, di pantai kebanggaan masyarakat Makassar itu, menjadi salah satu surga untuk para pemburu senja. Akupun demikian, selalu menikmati indahnya sunset (bahasa keren nya gitu) di pantai losari. Karena apapun alasan nya, senja di losari memang tak pernah kalah indahnya.
Ajungan losari adalah pilihan tempat yang tepat bagiku untuk menghabiskan waktu dengan menikmati matahari tenggelam. Meski ada satu kesalahan lucu yang harus terjadi di sore itu. Maksud hati ingin mencoba minuman rasa baru, malah minuman nya berasa balsem. Sial,, pengen mengumpat rasanya, bikin mual. Tapi lupakanlah. Senja di sore itu lebih penting. Mungkin karena aku terlalu sering melewatkan hari-hari yang indah. Dan alasannya yang cukup klasik. Sibuk dengan urusan kerjaan.  Dan sore itu aku benar-benar tidak ingin terganggu dengan hal-hal aneh, apapun itu.

Di anjungan, aku tidak sendiri. Entah alasan apa yang menjadikan banyak orang juga betah duduk di lantai plastik bergoyang. Yaa, bergoyang mengikuti alunan ombak. Itu menyenangkan.
Ada beberapa keluarga dan anak muda yang sedang menanti kapal bebek yang disewakan untuk sekedar berkeliling di laut pantai losari. Hingga mataku terusik dengan anak kecil yang sedang duduk di atas kapal bebek yang tidak beroperasi sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti alunan musik dari kapal yang di tumpanginya.  Adrian namanya, anak lelaki yang duduk di kelas 1 SD ini, asyik menikmati alunan musik yang menurutku tidak sesuai dengan usia nya saat ini. Ya,  musik dugem.

Tak hanya menganggukan kepala, sesekali dia juga menggoyangkan badannya mengikuti musik itu. Beberapa kali terdengar suara yang berasal dari beberapa anak kecil itu, terdengar memanggil namanya. (“riaan, Adrian, kesini mko”) teriakan itu sangat khas dengan logat Makassar. Tapi Rian (panggilan akrabnya) seakan tak bergeming. Dia terus bergoyang hingga kadang berjoget seperti anak-anak alay. Dengan sengaja, dia tidak peduli apapun yang terjadi disekelilingnya.

Aku yang terus tersenyum, bahkan sesekali tertawa lepas pun, tidak menjadikannya risih. Naluri jurnalisku kambuh. Aku harus buat tulisan tentang anak ini, bisikku dalam hati. Karena aku suka anak kecil, aku suka dunia anak-anak yang sangat polos.  Hingga aku mendekatinya. ketika dia sadar kalau aku ingin menyapa, spontan rian berhenti sejenak, kemudian lari dan berlalu. Berlalu dari hadapanku dan lantai plastic pergoyang itu. Rian menghilang.
Aku tidak menyerah. Dengan iming-iming uang aku mendekati beberapa temannya. Setelah bernegosiasi (seperti  transaksi saja, hahah) dua orang teman nya bersedia memanggil Rian dan di bawa dihadapanku. Aku merasa seperti seorang yang hendak menculik anak kecil. Hatiku tergelitik, ingin tertawa terbahak-bahak rasanya. kok, jadi  ribet begini yah? Seperti akan mewawancarai artis terkenal saja, hatiku menggerutu.

Aku memang wanita yang memiliki keinginan yang kuat. Jika aku ingin, maka harus ada. Dan aku pasti akan berusaha untuk mendapatkan itu. Termasuk Rian. Aku ingin tahu, tinggal dimana? Orang tuanya kerja apa? Dan alasan dia datang ke losari. Mengapa?? Alasanku sederhana, aku tertarik dengan kepolosan anak kecil. Aku suka bercengkrama dengan anak-anak yang kadang belum ku kenal sebelumnya.

Kita kembali ke alur cerita. Dengan bantuan Aldi dan Fadli (dua teman Rian yang menjadi polisi dadakan) Rian pun berhasil dibawa kehadapanku. Layaknya seorang tersangka, Rian nampak ketakutan dan malu-malu. Naluri wanitaku menenangkan anak kecil yang polos ini.

“Tenanglah, sy hanya ingin bercerita dengan kalian bertiga”.

Rian, Aldi dan Fadli nampak bersemangat. Percakapan singkatpun terjadi. Aku bertanya hal-hal yang sederhana seperlunya saja. Namun jawabannya tepat sasaran untuk tulisanku nanti. Ternyata mereka juga tak mau kalah melontarkan pertanyaan padaku.

“kakak, kenapa ki suka datang kelosari?”
“karena di Losari ada kalian bertiga” jawabku singkat. Terlihat, mereka tersenyum malu mendengar jawabanku. Aku tersenyum, melihat kepolosan tiga anak kecil yang ada di hadapanku. Tiga generasi penerus bangsa. Dan ketika mereka ijin untuk pergi, aku masih tersenyum geli melihat tingkah lucu ketiga anak kecil ini. Sambil bergandengan tangan, mereka lari dan berlalu. Memang terlihat ada senyum-senyum malu saat mereka mendengar jawabanku.

Dari percakapan yang singkat, aku mendapatkan hal yang luar biasa. Rian, anak kecil yang tinggal di rajawali, selalu meluangkan waktunya untuk datang ke pantai losari setiap sore. Bukan untuk mengemis atau meminta belas kasihan dari pengunjung yang terlihat perlente, tapi untuk menghabiskan senja dengan bermain dan menikmati riuh ramai di pantai kebanggan masyarakat Makassar itu. Meski ibunya bekerja sebagai tukang cuci, dan ayahnya hanya seorang penjual mainan keliling, dia tidak pernah punya niat untuk menjadi pengemis.

Saat saya bertanya, tentang cita-cita, Rian dengan polos menjawab, “mau ka saya jadi guru kak”. Cita-cita yang mulia.
Bagi mereka, berkejar-kejaran di Losari merupakan hal yang sangat luar biasa. Bermain di atara keramaian orang banyak, orang-orang yang tidak di kenal.
Sederhana, inilah dunia anak-anak. Dunia yang penuh dengan keceriaan. Bagi mereka, bermain adalah kebahagiaan mutlak yag tidak bisa di ganggu gugat. Sambil sesekali berceloteh polos tentang cita-cita dan keinginan ketika besar nanti.

Rian, Fadli dan Aldi berlalu secepat kilat. Dan aku, masih duduk sendiri memandangi mereka hingga hilang dari pandangan. 

Dari Adrian, aku belajar banyak hal. Dan yang paling mengesankan adalah bahagia itu ada karena diciptakan. 

Anjungan Losari, March’ 24 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar