Jumat, 11 April 2014

Cinta Tak Melulu butuh Alasan



01.56, episode melankolis

Hey kamu yang berbaju cokelat. iyaah!! kamu yang menemuiku secara sembunyi-sembunyi.

Pertemuan kita bermula curi-curi akun pesbuk. Eh, salah. Bermula kamu mengintip akun fesbuk ku. Lalu memperkenalkan diri dan berbincang.
Cinta tak melulu butuh alasan
Kita berbincang tentang segala hal. tentang bintang yang indahnya di malam hari saja. Tentang Rindu yang selalu datang tanpa meminta alasan. Kamu tak memerlukan sebab mengapa begitu bahagia berbincang denganku. Dan aku, membetahkan diri tanpa memperdulikan beribu tanya.
Mengapa kamu bersahaja? Mengapa kamu begitu baik? Dan Mengapa kamu terkadang bejat?
Disetiap kisah, aku selalu belajar banyak hal. Belajar memahami karakter mereka yang ada di dekatku. Belajar menempatkan diri pada setiap situasi. 
Karena menurutku hakekat hidup adalah belajar. Pilihan kita hanya DUA, memahami ATAU dipahami. Aku lebih suka memahami. Walaupun kadang begitu sulit dan menyiksa. Tapi percayalah, semua akan kelihatan sama jika terbiasa. Tidak akan ada kejanggalan ketika semua sudah terbiasa. Aku menikmati ketika belajar dengan alam. Begitu bijaknya alam ketika menjadi guru.
Coba lihat senja. Indahnya selalu menjadi target para pemburu keindahan. Di pantai, dibalik bukit, di sawah,atau dari balik gedung-gedung bertingkat.  Meski setiap sore, senja harus hilang karena malam akan menjadi raja. Tetapi besok, besok besok dan besok nya lagi senja akan hadir. Meski tidak dalam keadaan yang sama. Dari senja kita belajar bagaimana bisa memberikan kebahagian kepada orang-orang di sekitar kita. Meski suasana hati sedang tidak nyaman, ada beberapa orang yang menginginkan kita terlihat bahagia. 

Kembali ke kamu. Lelaki yang pernah menjadi istimewa.

Di pantai itu, kita pernah berdebat tentang lagu On The Floor milik Jenifer Lopez. Entah mengapa, topik perdebatan tidak penting itu harus terjadi. Mungkin kita kehabisan kata. Memutar balikan otak untuk kembali memulai percakapan baru, kita terlihat malu-malu.
Dan, ooppss!!! Kamu mencium pipiku. Aku geraam. Lalu apa gunanya geram dan marah. Apa dengan marah, aku akan menjadi wanita muslimah yang suci? Aku memang menyalahkan sikapmu yang terlalu berani. Tapi aku juga menyadari beberapa  hal. Jantung kita sedang beradu. Timbang menimbang rasa yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Tiba-tiba aku merasa tergelitik.
Katamu, aku lucu dan menggemaskan. Dan aku harus menjadi wanita munafik dengan tidak mempermasalahkan kejadian barusan.
Hingga, aku menyadari satu hal, aku hanya sedang memahami seorang sosok lelaki yang datang dengan tiba-tiba. Aku hanya tau kamu lelaki bernama *****r. Lelaki yang  pandai memahami keadaanku yang selalu tidak bersahabat. Lelaki yang terlihat sok dewasa ketika berbicara soal cinta. 
Tempat tinggal kita tidak berjauhan, tapi aku tak begitu tau rumah mu dimana. Kamu pernah bercerita tentang lelahnya bekerja, tapi kerjaanmu apa, aku juga tidak tau. 


"Tidak ada yang lebih baik selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan, sama-sama berhenti karena telah selesai mencari dan tak akan ada yang akan pergi sebab tau sulitnya mencari" @TFrutty89

Kamu lelaki yang hadir dengan samar tapi tak pernah pamrih memberi cinta. 
Kisah kita memang singkat, tapi  ini bukan akhir. Akan banyak takdir yang mempertemukan kita nanti. Kita tidak hilang, kita hanya saling memperlihatkan keegoisan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar