Minggu, 27 April 2014

Tatuya, Papa dan Sepakbola

Catatan  kecil....

Ini tentang papa dan anaknya yang rock n roll.


Tatuya

My Tatuya
Aku anak kedua dari 3 bersaudara, semuanya perempuan. Tatuya itu gabungan kata dari kami bertiga. Tanti, Tuti, Yati. Papa yang memberikan julukan itu.
Ceritanya begini.
Waktu SD aku sering di ejek oleh Paman dan kakak-kakak sepupu, katanya yang punya papa itu hanya kak Tanti, karna dia anak pertama. Menurut kebiasaan di daerah ku seperti itu. Seorang lelaki  yang sudah memiliki anak akan di beri panggilan baru. Papa misalnya, panggilannya akan menjadi "Ama Wa tanti (Bapak Tanti)". Dan ini  menjadi bahan ejekan kakak-kakak sepupu buatku.
Karena papa merasa kasihan jika aku di bully sama orang-orang dewasa itu, dengan bijaknya papa melerai.
"jangan panggil Bapak Tanti, tapi Bapak tatuya (Tanti, Tuti Yati)", ucap papa pada ponakan-ponakannya.
Dan akupun puas. 
Sejak itu di kampung mama (tempatku kami lahir dan beranjak dewasa) keluargaku di beri julukan Keluarga Tatuya.

Papa dan Hobinya


Lovely Papa
Setiap lelaki pasti menyukai sepakbola. Begitupun papa. Beliau adalah penggemar Fanatik klub Barcelona. Tak  hanya itu, papa juga sangat menyukai Lionel Messi dan Negaranya. 
Aku masi ingat. Ketika itu, Piala dunia tahun 1994, aku di ajak liburan bareng papa ke kota Makassar. Usiaku baru 5 tahun waktu itu, tapi daya ingatku sudah sangat kuat. Tujuan papa ke makassar biar bisa nonton pertandingan piala dunia saat itu. Maklum di daerahku saluran televisi masih sangat terbatas.
Pertandingan sepakbola yang selalu dimulai jam 2 pagi menjadikan papa tidak tidur semalaman, kalaupun tertidur, papa harus bangun jam 2 pagi biar bisa nonton. Segitu berkorbannya papaku, sampai kesehatannya pun di abaikan. Aku bahkan pernah menegur papa (teguran ala-ala anak kecil)
"apa enak nya kaah nonton bola lari-lari, bapak? kataku dengan dialeg orang sulawesi. Papaku hanya tersenyum. Dia paham aku masih belum mampu mendengarkan penjelasan org dewasa.
Hingga aku mulai masuk sekolah dasar, aku masih tidak mengerti, kepuasan apa yang didapat ketika menonton sepakbola. Aku memang pernah nonton pertandingan sepakbola, tapi hanya untuk menjadi tim hura-hura. Dan itupun pertandingan antar kelurahan atau pertandingan anak sekolah. Namanya juga anak-anak, jadi tim hura-hura itu sangat menyenangkan. Mengejek tim lawan itu seperti ada kepuasan tersendiri.

AC Milan


Tahun 2003 ada pertandingan sepakbola antara Boca Juniors (Argentina) dengan AC Milan (Italia). Kedua klub ini bertanding untuk memperebutkan posisi pertama Piala Interkontinental. Piala interkontinental adalah kejuaraan resmi sepakbola yang mempertemukan juara Liga Champion (kejuaraan klub di eropa) dengan juara Liga Libertadores (kejuaraan klub di amerika latin). Karna papa seorang Albiceleste sejati (julukan fans Argentina) jadi papa menjagokan Boca Juniors. Singkatnya, papa fans sama Argentina karena Talenta seorang Maradonna, si Tangan Tuhan.
Akupun tak sengaja menemani papa dan teman seperjuangannya menyaksikan pertandingan sepakbola.
Melihat papa yang begitu berapi-api menyuarakan dukungan untuk Boca Juniors, aku merasa perlu menjadi rival buat papa. Menurutku akan kelihatan sangat seru jika ada dua kubu di rumah (anak durhaka). Jadilah aku pendukung AC Milan pada saat itu. Ditambah lagi  pemain AC Milan bernomor punggung 22, Ricardo Kaka. Dengan wajahnya yang menawan aku suka melihat caranya meliuk-liukan bola. Jelasnya aku suka AC Milan karena Kaka.
Mulailah pertarungan antar fans di rumahku. Aku mulai mencari informasi tentang Idola baruku. Tentang jadwal permainan klub nya atau negaranya. Aku tak peduli jika papa selalu melebih-lebihkan klub argentina. Bagiku sepakbola itu Kaka.


FC Barcelona


Hingga tahun 2003 hampir berakhir, aku dan papa masih sering mengeluh-eluhkan klub favorit. Setiap berita olahraga aku selalu menunggu kapan Kaka tampil di tivi. Atau menunggu berita-berita terbaru AC Milan dan Kaka nya. Aku jadi lebih fanatik dari papa (hanya karena seorang KAKA) aku banyak melupakan kebiasaan-kebiasaan ku sebagai gadis kecil papa yang beranjak dewasa.
Mulai suka nonton pertandingan sepakola dan berita-berita tentang sepak bola. Menghafal nama pemain bola kelas dunia dan mencari-cari profil mereka adalah kebiasaan baruku.
Sekitar akhir 2003 papa punya idola baru. Ya, Lionel Messi. Talenta yang dimiliki peraih 4 kali Ballon D'Or ini membuat papa lupa akan Maradona. Pemain berkebangsaan Argentina ini menambah cinta papa sebagai seorang Albiceleste. Memang kemampuan yang dimiliki Lionel Messi sangat menakjubkan.
Dan jadilah Si papa dengan Barcelonanya. Tidak ada yang lebih menarik selain menantikan laga pertandingan Barcelona. Beliau tau semua tentang Lionel Messi. tentang penghargaan, rekor dunia dan segala macam nya.


Sampai aku lulus SMA, dan kemudian melanjutkan pendidikan di Makassar, percakapan tentang Barcelona dan El Masaya akan menjadi topik utama di telepon. Obrolan via telepon dengan papa membuatku menjadi anak lelaki sesaat.
Sedikit cerita masa lalu,
Sebenarnya beliau menginginkan anak keduanya adalah seorang laki-laki. Tapi  takdir Tuhan berkata lain, papa malah di beri tambahan 1 putri lagi. Mungkin sifatku yg agak kelaki-lakian ini karna keinginan papa yang tidak terpenuhi.


Tatuya, Papa dan Sepakbola


Kini kami bertiga ketularan hobbi papa. Menonton sepakbola bersama menjadi rutinitas wajib ketika sedang ngumpul. Saat berbeda kota pun, nonton bareng via telepon tak kalah seru.
Obrolan sepakbola akan menjadi  topik pembuka ketika kami berkomunikasi. Aku tak pernah risih dengan keadaan seperti ini, begitu juga dengan kakak dan adikku.
Meski begitu, papa tak pernah lupa kodrat kami sebagai wanita. Pendidikan agama untuk anak wanita tak pernah luput dari didikan papa.
Aku memahami kegalauan papa tanpa seorang putra. Mungkin tugas kami sebagai gadis-gadis kebanggaan papa adalah mengelabui  kegalauannya hingga beliau tak pernah merasa kurang  tanpa seorang putra.
Satu pesan papa yang tidak akan pernah kami lupa :
"nak, wanita itu ibarat telur, jangankan pecah, retak saja akibatnya bisa fatal".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar