Senin, 10 November 2014

Cita-citaku bukan Pe-eN-eS




Pegawai negeri sipil. Sejak daya ingatku sudah bisa membedakan mana warna merah dan warna putih,  aku sudah akrab dengan dunia ke Pe-eN-eS an. Bukan karena ayahku kepala BKD, tapi hampir semua Om dan tante-tante ku adalah PNS. Kalau Ayah hanya Guru SD biasa, dan PNS juga.
Sewaktu berseragam putih merah, bagiku PNS  itu pegawai pemerintah yang setiap bulan di gaji oleh pemerintah. Tambahan pengetahuan ku ketika berseragam putih biru, kata Ibu “PNS itu ada uang pensiunnya, jadi klo sudah selesai masa jabatannya masih tetap dapat gaji. Nah, otak polos ku mulai bekerja. Lah, kan sudah gag kerja kok masih di gaji? Itu kan...? ah sudahlah, berdebat sama ibu buang-buang waktu. Mungkin ibu juga berpikir, aku masih terlalu polos untuk menerima penjelasan-penjelasan orang dewasa.
Selain itu, jadi PNS menurutku gag keren-keren amat. Semasa SMA, satu-satunya profesi yang menurutku keren tujuh turunan adalah Pilot. Menurut lo?
Versiku, pilot itu keren gag ketulungan. Yg klo supir mobil mah sudah mainstrem, tp klo supir pesawat? Makanya tiap kali naek pesawat, aku suka kepo (yg mana sih pilotnya). Oia,, satu lagi fakta tentang pilot, dari 10 pilot, hanya ada 1 orang yang KURANG ganteng. Selebihnya  ganteng, cakep maksimal kemana-mana.
Oke, kembali ke topik utama. Semasa SMA aku mulai banyak tau tentang hak dan kewajiban PNS. Eh, belum lagi berita-berita di tivi, PNS yang bolos dari kantor, PNS yg menggadaikan SK nya untuk cicilan ini itu, dan satu yang paling sadis (menurutku) untuk lulus PNS harus bayar puluhan juta. Gag percaya?? Iya, aku juga awalnya gitu, tapi ini beneran, ciyuus miyabi deh.
Logikaku bergulir, PNS itu kan pegawai pemerintah, di gaji pemerintah bekerja untuk rakyat. Lah kalo di suruh bayar dulu smpe berpuluh2 juta gtu?? Berarti hanya org yang berduit dong yg bisa jadi PNS. Atau begini, orang yang tidak berduit jangan bermimpi untuk jadi PNS. Tapi bisa jadi berita ini hoaks, yaa bisa jadi. Ternyata tidak. Modus bayar membayar untuk CPNS itu bukan hoaks.
Waktu itu penerimaan CPNS 2013, sekitar desember akhir para peserta CPNS lagi H2C menanti pengumuman CPNS. Dan aku salah satu pesertanya, peserta dari Kab. Bombana, Sultra.
Sedikit cerita, 2013 itu ikut tes CPNS  karena sedikit di paksa (hanya sedikit) sama mama. Aku mengelak sih, kataku :

“aku gag bisa ikut ma, kan gag bisa cuti kerja”.

Tapi mama punya cara lain, katanya :

“kamu tinggal ikut ujian nya saja kok, berkasmu nanti bapak dan kakakmu yg di kab. Bombana yg urus, minta ijin 1 atau 2 hari kan boleh”

Yaa, namanya juga anak baik dan sholehah, aku nurut saja. Minta ijin ke atasan, di kasi ijin dengan syarat, selama aku keluar kota, harus ada yang gantiin jadi sekretaris. Baiklah. Tes CPNS pun selesai.
Akhir desember itu, hape ku gag berhenti berdering. SMS dan telpon dari sesama peserta juga kakak ku yg ternyata mereka juga ikutan menanti kabar itu. Ada banyak sms yg isinya link pengumuman, link nya berbeda-beda, udah gitu gag bisa terbuka. Setiap di klik-enter pasti #pagenotfound. Apa-apaan ini?? Dunia per Ce-Pe-eN-eS an, kok kyak gini, link nya punya pemerintah tapi kok sulit terbuka. Eh lupa, ternyata ini via net, mungkin jaringan nya pada tabrakan jadi gag ada yg lolos.
Dan di link ke sekian kalinya saya cek, namaku timbul dg status “memenuhi passing grade” jumlah nilaiku 385. Artinya secara seleksi nasional saya lulus dong. Papa pun mendengar berita kelulusanku. Malam nya papa memerintahkan¸saya harus pulang secepatnya.
Okeh. Saya pulang.
Di kantor, saya minta cuti 2 minggu sampai pengurusan seleksi di daerah selesai. Cek per cek, di daerah saya gag lulus seleksi. Terus di BKD, ada bapak2 satu nawarin gini, 
“kalo mau lulus gampang kok” #sambilkedip2mata.

Weets, sip, saya paham. Artinya saya harus memuluskan barang-barang ini dengan NOMINAL. Dan tak perlu pikir panjang :

“papa, saya harus kembali ke makassar, sy tidak minat yg beginian, kalo untuk mengabdi di pemerintahan harus pakek nominal, itu sama saja mengambil hak orang lain,”

Dan papa pun setuju, kata papa : “kalo rejeki gag kemana nak”

Mungkin karena PNS bukan menjadi target utama, sehingga saat dinyatakan tidak lulus seleksi daerah, tak sedikitpun ada rasa kecewa ataupun sedih. Kecuali mama.
Mungkin mama harus tau, bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan yang halal. Pegawai swasta yg profesional lebih baik di banding PNS yang sukanya nongkrong di cafe dan makan gaji buta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar