Senin, 10 November 2014

Untuk sehat, rakyat miskin harus menjadi anak tiri



Sudah pernah dengar kalimat ‘sehat itu mahal’ bukan? Nah karena kalimat ini, pemerintah menelorkan banyak program-program yang memudahkan pembiayaan kesehatan. Dulu ada Jamkesmas, Jamkesda, JKN, Askes dan sekarang ada BPJS. Ada juga yang lagi nge-hits, klo di jakarta namanya KJS dan untuk nasional namanya KIS yang merupakan program pemerintahan yang baru. Kalo BPJS biaya nya di potong di gaji untuk PNS dan bayar sekian rupiah untuk BPJS mandiri, sedangkan KJS atau KIS itu gratis tis tis. KIS dan KJS ini di peruntukan bagi rakyat yag benar-benar tidak mampu.

Mungkin kita perlu memberikan apresiasi dari program-program pemerintah dari zaman presiden pertama sampai presiden ke tujuh ini. Tapi yang harus kita ingat bahwa kebijakan setiap rumah sakit tidak di atur oleh pemerintah. Atau dengan arti lain, pemerintah boleh memudahkan proses pembiayaan kesehatan, tapi setiap rumah sakit memiliki hak fungsi dan kontrol yang bebas memberlakukan tipe pasien yang akan di layani. Terlebih lagi rumah sakit swasta.

Akan ada sistem yang membedakan antara pasien kelas umum, asuransi komersil dan asuransi dengan biaya pemerintah. Untuk kelas umum, bisa jadi akan di layani lebih cepat. Pertimbangannya begini, untuk pasien tanpa biaya pemerintah sudah tentu mereka akan memakai dana pribadi. Dengan asumsi bahwa, berapapun bayarannya si sakit harus sehat. Dan sudah pasti akan menjadi prioritas utama. Ini juga bisa terjadi untuk asuransi komersil.
Lalu, bagaimana dengan sistem pembiayaan pemerintah yang mudah dan gratis itu.

 

Sedikit curhat,

 

Karena infeksi ulkus kornea yang di derita adik sepupu, hingga dia harus di rujuk ke salah satu RS swasta yang bertaraf internasional di kota makassar. Adik sepupuku pasien BPJS. Di RS ini, manajemen pelayanan  pasien BPJS kurang baik (menurutku). Rumah sakit hanya melayani 200 pasien BPJS per hari.  Pasien BPJS harus mengambil nomor antrian yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Nomor antrian di bagikan setiap jam 07.30. Di sinilah terjadi perebutan nomor antrian oleh pasien. Pagi itu, sy tiba di rumah sakit pukul 09.15 dan langsung ke loket pasien BPJS untuk registrasi, kata si mbak nya :
 
“silahkan ke security  ya, untuk mengambil nomor antrian”.

Sy bergegas ke security, kata security nya “nomor antriannya habis mbak, datang besok lagi ya”
Waah. Gilaa. Baru jam segini loh.
Saya tanya ke orang-orang yang ada di situ. Informasi yang saya dapat, bahwa kita harus mengantri lebih pagi untuk mendapatkan nomor antrian.

Besoknya, sy tiba di rumah sakit jam 06.20. Sudah banyak orang rupanya. Tapi tidak tampak orang-orang mengantri. Ternyata setiap yang datang harus bertanya ke pasien yang datang lebih awal bahwa dia org keberapa yang datang. Setelah mendapatkan nomor lisan, artinya kita sudah punya nomor antrian. Tapi itu sebelum antrian dari pihak rumah sakit di bagikan. Jadi nomor lisan itu gunanya biar orang yang datang belakangan gag bisa serobot ke depan. Tapi begini juga, siapa yang bisa jamin kalo si A nomor 1. Secara kita kan belum punya nomor  antrian resmi. Bisa jadi si nomor 1 ada 2 atau 3 orang, karna masing-masing bisa saja mengaku saya sebagai nomor 1.  Ini kekhawatiran yang tiba-tiba timbul ketika sy berada di antara kerumunan antrian.

Dan kekhawatiranku pun terjadi, ketika bapak-bapak dan ibu-ibu lagi berdebat soal siapa nomor 1, 2 dst, tiba-tiba ada satu bapak menyerobot  di depan terus bilang,

”yang bisa kasi bukti bahwa dia nomor 1, silahkan mengantri paling depan”

Semua diam. Trus ada satu ibu bilang kayak gini,
“kita tidak bisa kasih bukti secara tertulis pak, tapi orang-orang yang datang disini sudah saling mengetahui siapa yang datang lebih dulu siapa yg datang belakangan, setiap yang datang harus bertanya kepada yang sudah datang lebih dulu bahwa dia nomor berapa”

“tapi tidak ada bukti tertulisnya kan? Lanjut si bapak lagi sambil berdiri paling depan.

Perdebatan panjang pun terjadi. Masing-masing mau duluan. Masing-masing berebut.  Pihak rumah sakitpun kesulitan untuk melerai.

Saya berdiri di belakang kerumunan dan bertanya dalam hati, “ini yang salah sistem rumah sakit atau PASIEN?
*kamu tau definisi pasien kan? lalu bagaimana jika pasien lambat di tangani?
Sembari kita memikirkan solusi,  bagaimana kalo kita bayar umum saja. #newproblem

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar