Senin, 02 Februari 2015

My Trip #NotWalkAlone


Part II

Go To Madiun

Pukul 13.25 bis Jaya yang saya tumpangi bertolak ke madiun. Saya sudah posisi wena di dalam bis, tugas berikut adalah kabari mama,
“ma, sy dh tiba di surabaya jam 10.15 tadi sekarang sudah di bis menuju rumahnya atul”.
“Oke, Hati-hati” balasan  sms yang di kirim melalui ponsel papa.
Saya duduk di kursi  berbaris dua. Kursi di sebelahku masih kosong. Yes, bisa selonjorin kaki nanti , kataku dalam hati. (iyaa, kan bis punya bapak moyang mu,, hahahah)
Di dalam bis, tiba-tiba saya di serang rasa kantuk yang menguras hati. Teringat kata-kata mama, “kalau tidur, perhatikan sekelilingmu, pastikan barang bawaanmu aman” (haiissshhh,, anak mami bangeet). Bis nya berhenti, ada beberapa penumpang yang baru naik. Saya lihat papan  reklame yang ada, ternyata masih di Sidoarjo. Dari penumpang yang naik, ada salah satu yang duduk di samping ku. Seorang  TNI AU, usianya sekitar 50 tahun. Dan lagi, bapak TNI ini seumuran papa (papa lagi).

Kami di hampiri petugas bis, bapak petugas nyodorin kertas kecil semacam tiket. Saya membayar sewa tiket bis Rp. 24.000,00 untuk sampai ke madiun. Wow, jarak Surabaya-Madiun harus di tempuh 3 sampai   jam, naik bis Patas sewanya segitu doang. Keren. Di bandingkan dengan Sulawesi, jarak Makassar-Pare pare juga sama 3-4 jam naik mini bus, Rp. 60.000,00.

Lanjut cerita, lagi sibuk baca2 pesan BBM, ponselku bordering,  telepon dari  kantor rupanya. Saya bicara di telepon dengan dialeg Makassar yang sangat kental.  Selesai ngobrol, si bapak nyapa duluan.
“Bukan asli jawa ya nak”
(Alhamdulillah, sy di panggil nak, jd si bapak bukan **I senior genit) “iya pak, saya dari Makassar”  jawabku.
Si bapak sepertinya tau klo saya mengantuk, “kalo mau tidur, tasnya di amankan yaa” katanya lagi.
Saya hanya menjawab dengan senyum dan anggukan (bukan sok jaim, tapi mata benar2 tidak bisa di ajak kompromi). 
tanpa pikir panjang saya pasang headset di telinga, merapikan tas dan mencoba untuk memejamkan mata. Siapa tau saja bisa tidur. Lelah perjalanan udara masih terasa.

Bis terus melaju, saya terbangun, liat jam sudah pukul 14.53 wib. Artinya saya tidur lebih dari sejam. Bapak TNI yang di sampingku sudah tidak ada, mungkin dia turun pas saya lagi tidur. Saya liat keluar jendela, sudah masuk kab. Jombang. Saya tanya ke atul via WA chat,
“Ini udah di jombang, masih jauh ya kira2”, tanyaku.
“Jomblo, eh, Jombang. Udah lewat terminalnya belum?, kata Atul.
“gag tau, tapi tadi baca papan nama sekolah gitu, Kab. Jombang katanya” jawabku lagi.
Trus kata atul, paling tidak 3 jam lagi. Saya menghela napas, 3 jam lagi di bis. Bosan tiada tara. Saya ambil hape, nge bbm, nge WA beberapa kontak biar tidak boring.

Melakukan perjalanan panjang, sendirian itu bukan hal baru. Bosan, bete itu cerita lama yang harus di lewati. Tahun lalu pernah pulang ke bau-bau sendirian yang rute nya di alihkan karena pesawatnya delay. Seharusnya saya naik pesawat Merpati Airlines Makassar-Baubau. Tapi karna delay, jd ruteku berubah menjadi Makassar-Kendari-Baubau. Kendari-Bau tidak naik pesawat, melainkan naik super jet (kapal cepat), perjalanan laut di tempuh selama 6 jam. Dan ini untuk pertama kalinya menginjakan kaki di kota Kendari. Padahal saya orang Bau-bau asli loh.  Kapalnya transit di kota Raha. 
Sebenarnya saya mensyukuri pergantian rute ini. Ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Tujuan ku ke bau-bau, tapi malah saya melewati banyak kota. Rugi di waktu sih, tapi not bad laah. 

Lanjut cerita.
Maen Game yang ada di hape udah, chating dengan beberapa kontak udah. Bosan chat, bosan maen game liat2 keluar jendela banyak sawah. Berbalik ambil hape potrat potret pemandangan di luar.
Eh, malah panggilan alam paling menjengkelkan datang. Kebelet pipis. Gilaaaakkkk. Saya kembali chat WA Atul.
“barusan lewat tugu adipura, gag tau kota apa, brapa jam lagi, sumpaah kebelet pipis, gag bisa nahan” kataku.
“ahahahah, tahaaan” kata atul dengan nada mengejek.
Tak lama, bis berhenti di salah satu terminal. Saya minta ijin pak  kondektur mau pipis dulu di toilet terminal.
Kembali dari toilet saya liat-liat sekeliling terminal. Cari-cari papan nama kali saja keliatan ini terminal apa. Soalnya saya orang yang super kepo, harus detail. Lalu saya Tanya pak kondektur, katanya ini terminal Caruban Nganjuk. Tempatnya bersih, banyak penjual. Sebagai tempat yang baru saya datangi, lumayan menarik lah.

Bis kembali melaju, saya pun melanjutkan perjalanan, menurut kata pak kondektur , Pasar pagotan (tempat tujuan ku) masih satu setengah jam lagi. Saya liat jam kembali pukul 16.25. Perut sudah mulai keroncongan. Harus di tahan sampai satu setengah jam kedepan.
Tidak lama kemudian, gerbang  Kota Madiun sudah terlihat. Saya girang, sebentar lagi tiba. Tapi cuaca bikin panik. Awan menghitam, hujan sudah turun dengan lebaatnya. Bagaimana saya di jemput sama Atul samlehoy nanti?
“Pasar pagotan, pagotan” teriak pak kondektur. Hujan sudah reda. Saya turun dari bis, tepat di lampu merah. Lalu saya telpon Atul,
“Jangan lama2, saya di lampu merah, klo kamu lama, saya bisa laku di sini” kataku via telpon. Atul tertawa dengar celoteh ku yang sedikit membual.
Atul pun tiba, dan kami cuss kerumah. Segera istrahat karena perjalanan besok pasti lebih melelahkan. Madiun-Yogyakarta-Jakarta. 

to be continued......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar