Sabtu, 02 April 2016

Jarak adalah angka

 Part I
Jumat, 25 Maret 2106

Perjalanan kita dimulai dengan kata rindu. Keputusan ini tergolong nekat menurutku. Mengandalkan libur 3 hari, saya langsung mengiyakan permintaan mama via telepon untuk pulang ke rumah. 
"Jarak Sidrap-Baubau itu jauh loh, tidak cukup waktu 3 hari untuk pulang" lagi lagi teman kantor mengingatkan. Dan saya tidak peduli. Harus pulang, kataku dalam hati. 
Semenjak jauh dari keluarga, momen pulang kerumah adalah hal yang sangat indah. Mungkin karena tergolong momen-momen langka, jadi semua terasa sangat berharga. Dipisahkan ribuan kilometer darat dan lautan menjadikan rindu ini menggebu di setiap hari.
Rindu yang terbungkus rasa bangga. Yaa, betapa bangganya bapak karena anak perempuannya yang selalu dianggap bayi mungil kini mandiri di negeri orang. Tanpa sanak saudara. Bayi mungil yang kini hidup bermodal rasa berani dan nekat. Membunuh setiap perasaan takut karena perbedaan kultur dan bahasa.
Kota pangkajene (ibukota kabupaten sidrap) sebenarnya bukanlah lokasi yang sangat baru. Hampir 10 tahun bermukim di kota Makassar,  tentu sudah sangat mengenal gelagat dan kultur suku bugis. Mungkin karena keterbatasan jarak dan waktu sehingga semua terasa sangat jauh.
Pagi itu, saya sigap mempersiapkan semua barang bawaan yang akan dibawa ke Baubau.  Saya pastikan tidak ada yang tertinggal. Tas berisi perlengkapan makeup, carger, headset, sandal, baju dan novel  sudah dikemas dengan baik. Setelah memastikan semua lengkap, saya siap meluncur kebandara. Kali ini di antar si mr. Jericho (adek laki-laki ku yang saya beri julukan chiko Jericho).  Menurut jadwal, keberangkatan pesawat yang akan saya tumpangi nanti tepat pukul 10.20.
Tiba di bandara, jam di handphone menunjukan pukul 08.50 artinya keberangkatan masih  1 jam 30 meinit lagi. Perut sepertinya butuh di isi. Saya dan si lil brother menuju salah satu makanan cepat saji milik orang Amerika. Sambil makan, si Jericho greget bertanya, pulang ke baubau dalam rangka apa? Saya jawab, pulang silaturahim saja. Trus kata dia, enak yaah klo sudh kerja bisa pulang semaunya. Saya tidak menjawab apa-apa selain menyuruh dia segera menghabiskan makanan. Mungkin dia harus tau, bahwa dari lubuk hati yang paling dalam si anak rantau ini sebenarnyan tidak seperi yang dia bayangkan, harus pandai memilah dan memilih waktu yang tepat setiap kali ingin pulang.
Usai makan, saya segera  chek in dan bergegas keruang tunggu. Waktu keberangkatan 20 menit lagi. Saya keenakan becanda sampai hampir lupa jadwal keberangkatan.
Ada peristiwa tak terduga ketika saya akan naik pesawat. Sambil menunggu para penumpang naik, saya berteduh dibawah sayap pesawat.  Udara di parkir pesawat  panas sekali dan saya sengaja tidak terburu2 naik, membiarkan para penumpang lain saling serobot lebih dulu. Toh nomor kursi masing-masing penumpang sudah tertera di pass boarding. Lagi di bawah tangga pesawat tiba-tiba punggungku dicolek seseorang.  Saya  berbalik, ternyata dia adalah adik kelas saya semasa SMA. Waah, belum sampai di baubau saya sudah ketemu teman saja. Tak berapa lama, ada wajah lain yang lebih mengejutkan. Namanya Emi Fitriani, dia teman sejak SMP, 1 tingkat dibawah saya. Tapi dulu saya dan EMi akrab sekali. Kami memang sering menjadi perwakilan sekolah karena sama-sama berprestasi. Entah kapan terakhir bertemu dia. Seingatku semenjak berseragam abu-abu. Setelah itu saya lulus 1 tahun lebih dulu, kemudian sibuk dengan takdir masing-masing dan hilang bersama kesibukan.  Saat itu, bersosial media memang tidak segampang sekarang.  
Dan saking jodohnya, saya dan Emi berada di 1 seat yang sama. Saya 20C dan dia 20A. Satu  jam di pesawat  benar-benar berharga. Kami saling bercerita pengalaman kerja masing-masing. Karena sesudah ini, entah kapan kami akan bertemu lagi. Emi sekarang bertugas di BPS kab. Dompu, lebih jauh dari tempat saya di tugaskan. 
Dan 1 jam 15 menit berlalu. Ban pesawat sudah menyentuh lantai parkir bandara Betoambari, Baubau. Saya tidak sabar ingin segera memeluk bapak. Terakhir mendengar suaranya 1 jam yang lalu sebelum pesawat terbang. Bapak memastikan jam keberangkatan, saya pun memastikan bapak sudah dibandara atau belum.  Penumpang baru saja dipersilahkan turun, saya dan emi belum turun. Kita sibuk mengabadikan momen.  Foto-foto itu semacam ritual wajib ketika ketemu teman lama.
Baiklah, penumpang sudah agak sepi, saya langsung pamitan sama si kawan lama. Dan berlari menuju ruang tunggu. Dari pelataran parkir pesawat, saya sudah lihat tubuh tua yang selalu membanggakan itu. Bandara Betoambari Baubau tidak sebesar bandara international Hasanuddin, sehingga para penjemput bisa kelihatan dari dalam. Saya benar-benar tidak sabar memeluk bapak. Seperti anak rantau yang  tidak pulang bertahun-tahun yaa. Padahal baru beberapa bulan lalu saya ketemu bapak. Agak lebay yaa barangkali, tapi entahlah. Mungkin karena ini kepulangan tak terduga. Jadi rindunya menggebu menggunung tak terdefinisi.
Kelihatannya bapak bahagia sekali memastikan si bayi mungilnya sehat dan bahagia. Saya dan bapak bergegas pulang. Karena di rumah ada mama, kakak dan si kecil Kayla (anak kak Tanti yang berumur 3 tahun) yang tidak sabar menunggu.
Perjalanan kami kerumah harus menempuh rute darat selama kurang lebih 1 jam. Saya di jemput dengan motor kesayangan bapak, hadiah ulang tahunku ketika berusia 25 tahun. Kali ini disambut hujan yang lumayan deras. Bapak sudah mengantisipasi itu. Kata bapak, Kita tidak perlu berteduh bapak sudah menyiapkan 2 pasang jas hujan. Bapakku memang luar biasa.
Kita tidak perlu berlama-lama dengan hujan, 30 menit kemudian hujannya reda. Bapak berhenti sebentar untuk melepas jas hujan, saya pun begitu. Kata bapak, kita harus kelihatan oke pas sampai di rumah nanti. Saya tertawa dan kagum. Di usia seperti ini, bapak masih memikirkan soal penampilan yang oke.
Sampai 1 jam berlalu. Saya tiba di rumah. Di sambut Kayla yang masih malu-malu. Mungkin merasa wajahku masih sangat baru di ingatannya. Saya dan Kayla memang sangat jarang ketemu.  Waktu kebersamaan kami memang tidak seperti Kayla dan adikku, Yati. Semenjak Kayla lahir, saya bertemu Kayla hanya ketika pulang kampung saja. Yang jadwalnya adalah sekali pertahun selama 2 minggu.  Beda dengan Yati, yang lebih banyak memiliki waktu kebersamaan dengan sikecil lucu ini. Jadi wajar jika Kayla agak segan ketika saya sapa dan langsung sok akrab.
Sama mulai merayu Kayla dengan berbagai trik. Pinjamin Kayla handphone, ajak main, ajak foto-foto, cerita ini itu, sampai akhirnya Kayla luluh dan mau di gendong.
Mama dan kakak tak terbendung bahagianya. Sayapun begitu. Apapalagi melihat sajian di dapur. Ada makanan favorit kami bertiga (tatuya) makanan khas pulau buton. Segala masalah dan resah di hati hilang seketika.
Saya tidak menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu. Ini benar-benar quality time bersama keluarga. Kepulanganku hanya untuk mereka.
Kami menghabiskan sore hingga malam dengan berbagai macam topik pembicaraan. Tak lupa saya memberi kabar  buat sibungsu yang jauh di seberang sana. Andai jarak sangkulirang baubau sama seperti jarak sidrap-baubau mungkin di libur 3 hari ini dia juga bisa pulang.
Sampai pukul 23.00, saya, mama, kayla dan bapak masih saling becanda.  Malam ini kakak ipar tidak pulang karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan di  counter. Saya tidak berhenti bersyukur di lahirkan di tengah keluarga yang luar biasa ini. Hingga kami semua terlelap, saya masih merasa ini seperti mimpi, pulang kerumah tidak pada saat cuti atau libur lebaran.
Ini tentang si anak rantau yang selalu rindu pelukan keluarga. Yang selalu rindu tempat berpulang. Tentang si bayi kecil yang kini mandiri di tanah bugis. Mungkin orang lain menganggap ini sangat biasa. Tapi bagi si anak rantau ini, momen bersama keluarga adalah hal yang sangat berharga. Tak cukup pertemuan sehari-dua hari,, takboleh berpisah  terlalu lama. Si anak rantau ini pasti butuh tepat berpulang. 

to be continued...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar